Tampilkan postingan dengan label Et Cetera. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Et Cetera. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Februari 2011

SENSASI NOBAR: KESETARAAN NALURI KODRATI



Luar biasa fenomena aksi “panggung” L-A. Pasangan selebriti papan atas ini menjadi faktor katalis menariknya klip xxx yang sedang marak merajai dunia maya di negeri ini. Saya hakul yakin klip ini menjadi salah satu obyek buruan para pengguna internet. Dan kalo mau jujur, salah satu file terpopuler untuk di –download tidak lain adalah adegan panas L-A.

Salah satu gambaran begitu dasyatnya pengaruh klip itu nyata tergambar di sebuah kantor di Jakarta. Bukan hanya menjadi sarapan obrolan menjelang kerja atau juga menu gosip miring makan siang, di sela-sela jam kerja pun rumor ini telah menjadi lalapan pedas-penuh kritik dan penghinaan dari figur-figur ‘suci’ dari segala perspektif. Tidak hanya itu, begitu terdengar salah satu staf telah sukses mengunduh , tak tanggung-tanggung, dari bos hingga OB berjejer memelototi adegan vulgar yang tersaji di monitor komputer. Layar 13 ince seakan kekecilan di hadapan luapan dan persetubuhan rasa ingin tahu, gelora dan sensasi yang ada di benak masing-masing pribadi. Tak ada lagi unsur pembeda, wanita-pria, tua-muda. Tak ada atribut pemisah bos-bawahan, kaya-miskin.

Terlepas dari fenomenalnya video itu., untuk urusan hasrat manusiawi, untuk mengikuti naluri kondrati manusia tak ada atribut pemisah yang layak dikedepankan. Bos gak perlu jaim, dan bawahan gk perlu enggan. Semuanya bisa tampil transparan apa adanya. Ya guys, untuk aspek-aspek kodrati kita tak memiliki perbedaan, sama-sama punya hasrat, gairah, naluri, insting, sensasi tentang SEKS. So, gk perlu menghina pelaku adegan, hehehe...at least in my opinion. Konklusi lainnya, saat nonton bareng ada kesetaraan, tul gk??!!

Senin, 22 November 2010

POTENSI PROFIT DI BALIK PERUBAHAN CUACA


Perubahan iklim sebagai dampak pemanasan global memaksa semua orang, mulai para petani hingga para konglomerat beradaptasi kembali, mengubah sejumlah pola hidup dan kebiasaan yang sebelumnya terlihat stabil bin ajeg. Dua musim, hujan dan panas, dengan perbedaan yang jelas dan selama berabad-abad menjadi ciri negara katulistiwa kini berubah total. Salah satu buktinya, Jakarta diguyur hujan sepanjang tahun.


Risiko perubahan cuaca telah berbias dalam wujud perubahan pola tindakan, lifestyle, aktivitas perekonomian. Ketidakpastian cuaca di atas memaksa sejumlah pengendara sepeda motor beralih ke mobil pribadi untuk menghindari hujan sebelum dan setelah ke kantor. Dampak lanjutannya jelas, adanya peningkatan angka penjualan mobil – terutama mobil second- kemacetan semakin mengular karena jumlah kendaraan roda empat yang meningkat. Ada juga pengendara yang beralih menjadi penumpang busway. Dengan jumlah armada yang tetap terbatas, ditambah porsi armada untuk setiap jalur yang sulit diprediksi serta masalah klasik soal jadwal, peningkatan jumlah penumpang tersebut jelas berpengaruh besar. Antrean penumpang di sejumlah halte mengular; jadwal kedatangan bis semakin tak tentu karena adanya pengalihan ke jalur-jalur padat; hingga kenyamanan dalam bis yang benar-benar hilang.

Sisi lain yang terlihat jelas menjadi imbas sangat mudah dicerna jika kita cukup awas. Sejumlah anak sekolah sudah stand-by di pusat perbelanjaan dan perkantoran di sore hari dengan payung di tangan. Hasil pekerjaan sambilan ini adalah meningkatnya uang jajan anak-anak. Ke mana rezeki nomplok mereka akan disalurkan? Ada efek lanjutan dari fenomena ini tentunya. Tajamnya daya penciuman orang-orang Jakarta segera mengendus peluang untuk mengeruk keuntungan besar dari kebiasaan baru anak-anak. Buah ‘hujan sore-sore’ ini salah satu ujungnya berpengaruh pada semakin ramainya pengunjung warnet yang menyediakan fasilitas game online. Inilah tempat favorit bagi anak-anak untuk menghabiskan uang jajanannya. Tak heran bila di sekitar sejumlah pusat perbelanjaan menjamur warnet-warnet baru, baik yang fasilitasnya berkelas maupun, dan ini mayoritas, yang fasilitasnya ala warkop.

Yang juga mengeruk untung adalah produsen obat sakit kepala dan flu. Kehujanan adalah pemandangan sehari-hari. Seringnya kehujanan, terutama saat sore menjelang malam, membuat orang lebih mudah terserang flu. Apalagi saat pakaian lembab dan basah oleh guyuran air hujan, tubuh harus bermandi peluh dan kepenatan (bila di dalam angkutan umum) ataupun kedinginan selama beberapa jam dalam mobil pribadi karena lalu lintas yang macet. Jika ditambah efek psikologis yang dikombinasikan kondisi-kondisi nonideal tersebut maka lengkaplah rujukan untuk mencari obat sakit kepala. Dalam dua tiga hari, orang yang secara fisik kuat pun akan mudah drop. Tanda-tanda awal yang perlu diantisipasi sebelum berdampak pada jatuh sakit yang lebih parah memang obat sakit kepala dan flu, serta minuman untuk mempertahankan stamina.


Nah, jenis obat-obatan dan minuman seperti ini sedang menjadi primadona. Keuntungan jelas diperoleh produsen hingga para pedagang eceran yang memasarkannya. Mungkin, produsen akan berfikir untuk memanfaatkan momentum ini dengan membuat iklan baru. Isinya tak jauh-jauh dari: ”kehujanan, macet....segera cegah sakit kepala dan flu dengan ....”

Gambaran di atas baru satu contoh sederhana dari satu gambaran ketidakpastian alam, perubahan cuaca sebagai efek perubahan iklim, yang sedang dihadapi dunia saat ini. Masih begitu banyak ketidakpastian lain yang berbuah risiko bagi manusia. Namun, sejak Adam Smith, risiko telah dilihat sebagai ruang untuk meraup keuntungan. Beberapa pihak telah berhasil melihat ceruk potensi perubahan cuaca kota Jakarta. Siapa menyusul?

Jumat, 05 November 2010

Computer Forensic

Forensik adalah pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk menginvestigasi dan menyusun fakta2 dalam pengadilan criminal atau sipil. Pakar forensic mampu menguji sejumlah petunjuk dan menyusun kembali rangkaian peristiwa/kejadian. Computer Forensic merupakan disiplin ilmu yang paling baru dan paling cepat perkembangannya dalam bidang ini. Sebagaimana dideskripsikan sebelumnya pada Bab 11, computer forensic – kerap disebut juga sebagai digital forensic, network forensic atau cyber forensic - adalah penemuan, pengumpulan dan analisa atas bukti2 yang ditemukan dalam computer dan jaringan2nya. Teknik forensic computer mencakup analisa file2 log (Log Files/data harian tercatat), analisa storage media (termasuk file2 yg dihapus/deleted files), analisa atas log percakapan (chat logs), penelusuran jalur data pengiriman pada data network (Gbr. 1). Bidang studi ini mengintegrasikan aspek2 pengadilan criminal, ilmu computer, serta teknik2 investigasi computer dan jaringan.


CAKUPAN COMPUTER FORENSICS (CF)

CF focus pada computer dan jaringan.
• Analisa forensik komputer meliputi pengujian media, program2 dan data serta file log(catatan/rekaman aktivitas harian) untuk merekonstruksikan aktivitas yang memanfaatkan komputer tersebut, mis., percakapan pesan instan, chatting internet, pesan email, situs2 yang dikunjungi, dokumen atau lembar kerja yang dibuka, file2 audio didengar dan gambar/foto yang dilihat.
• Analisa forensik jaringan lebih terfokus pada kegiatan suatu jaringan dan meliputi analisa atas konten server, server dan file2 data log pada penghubung koneksi (router), lalu lintas data paket (paket traffic), dan informasi yang diperoleh dari ISP (Penyedia Jasa Internet).

Ilmu forensik komputer mencakup sejumlah area yang berkaitan (gbr.2). CF sangat penting bagi penegakan hukum sebagai sarana pengumpulan bukti dan investigasi kriminal. CF terus berkembang menjadi perangkat penting yang digunakan untuk pengumpulan informasi intelijen militer dan sipil – termasuk aktivitas terkait keamanan negara. CF juga terus dikembangkan dan semakin luas dipakai oleh berbagai organisasi dan perusahaan swasta lainnya untuk menangkal serangan atas keamanan infomasi (information security). Perangkat2 (tools) utama dan keahlian sama pentingnya dalam penerapan.

Seorang spesialis CF juga harus memiliki pengetahuan hukum, tanpa perlu membedakan apakah investigasi yang dilakukan adalah untuk penegakan hukum atau untuk tujuan2 sipil. Ada kompleksitas tambahan dalam bidang ini yang disebabkan undang2 kejahatan informasi virtual dan penerapan privasi sah pengguna (user) yang sangat bervariasi dari satu negara ke negara lain, dari satu bgsa ke bangsa yang lain. Dengan adanya internet dan www (world wide web), batas2 yurisdikasi negara semakin kabur, dan seseorang di negara tertentu dapat saja melakukan kejahatan di mana pun di dunia tanpa perlu meninggalkan keyboard komputernya.

Meskipun kebanyakan spesialis CF saat ini terkait dalam investigasi penegakan hukum, bidang ini tidak terbatas pada penemuan bukti kesalahan kriminal. CF juga sedang berkembang pesat sebagai spesialisasi turunan bagi para profesional keamanan informasi (information security/IS). Manajer IS tradisional bertanggung jawab untuk proaktif dalam melindungi aset2 teknologi informasi (IT) dalam suatu perusahaan/lembaga.
Penyusupan jaring pengamanan dan peristiwa sejenis tak mungkin dihindari. Spesialis CF, sebaliknya, perlu mengarahkan fungsi tanggap insiden untuk mempelajari bagaimana peristiwa itu terjadi, siapa di belakangnya, dan bagaimana mencegah agar hal itu tidak berulang. Teknik2 CF terus digunakan oleh perusahaan pihak ketiga untuk mengaudit kebijakan dan pemenuhan permintaan akan isu2 mulai dari AUPs organisasi hingga regulasi2 seperti SOX dan HIPAA.

CF juga merupakan bagian dari perangkat pakar komputer masa kini. Banyak peniliti IS secara sengaja memasang honeypot (komputer yang mudah ditembus) pada jaringan mereka untuk tujuan khusus yakni menganalisa serangan2 yang kadang2 disusupkan ke dalam sistem mereka. Selanjutnya mereka dengan teliti mempelajari bagaimana cara honeypot yang diserang tersebut dapat menyediakan informasi yang signifikan dalam bentuk2 baru serangan, yang kemudian dapat diterjemahkan ke dalam perangkat defensif dan strategi baru.

Kepentingan CF

CF sedang berkembang pesat karena alasan yang sangat sederhana yakni komputer dan internet adalah teknologi yang sedang marak dimanfaatkan untuk aktivitas kriminal. Saat komputer menjadi semakin kecil, murah, ringan, dan mudah digunakan, perangkat ini semakin terlihat hadir dalam hampir semua tindak kejahatan diinvestigasi polisi. Sejumlah kegiatan, seperti perjudian ilegal dan penyaluran virus dan kuman, telah memunculkan corak hidup baru karena kemudahan penyebaran komputer dan internet.

Cybercrime (CC) sedang bertumbuh pesat baik dari segi jumlah kejadian maupun pembiayaan dalam dollar, terutama karena kejahatan ini lebih aman dan menguntungkan dibandingkan kejahatan dalam dunia ’nyata’. Jumlah rata2 perampok bank, misalnya, hanya mengakibatkan kerugian bersih sekitar beberapa ribu dolar, itupun sebagian besar dapat ditangkap dan dipenjara. Sebaliknya, kejahatan komputer kerah putih, seperti pelelangan semu, pengurasan kartu kredit, pencurian identitas, dan berbagai praktik penipuan keuangan, cenderung mengakibatkan hilangnya jauh lebih besar jumlah uang, dan para penyusup jauh lebih sulit ditangkap dan dipenjara. Sebagai tambahan, penjahat IT cenderung lebih mampu menarik simpati hakim, juri dan publik dibanding pelaku kekerasan. Keseluruhan permasalahan itu menjadi fakta bahwa akses ke resources jaringan korporasi membuat pekerjaan2 dari pelaku internal oleh karyawan sendiri jauh lebih mudah. Gbr. 3 menunjukkan kerugian dalam dollar yang dilaporkan oleh 269 perusahaan besar pada tahun terakhir ini berkaitan dnegan pemalsuan telecom dan keuangan, penyalahgunaan oleh orang dalam, akses jaringan yang tidak diotorisasi, pencurian informasi peruhaan, dan sejumlah tindak kejahatan lain terkait komputer.

CF digunakan tidak hanya untuk membasmi CC. Teroris di seluruh dunia diketahui telah menggunakan komputer dan berbagai perangkat digital lain, sehingga analisa CF menjadi penting sebagai sarana anti-terorisme, baik untuk pemberantasan kejahatan maupun untuk pengumpulan data intelijen. Semua lembaga yang menggunakan komputer, mulai dari LSM, perusahaan2 besar hingga biro2 pemerintahan dan perusahaan pengguna, berada dalam bahaya. Semakin banyak informasi yang disimpan secara digital dan semakin banyak aspek hidup masyarakat berada di bawah kontrol komputer, maka semakin kita semua menghadapi meningkatnya kerentanan. CF adalah sarana penting dalam memahami sistem informasi digital kita dan menjaganya tetap aman, sama halnya seperti menelusuri jejak orang yang menyalahgunakan sistem tersebut.


PROSES CF

Proses CF bisa sederhana bisa juga rumit, tergantung pada ruang lingkup yang menyebabkan investigasi tersebut menjadi prioritas. Spesialis CF bisa saja menjadi bagian dari tim investigasi, dan analisa atas bukti digital bisa hanyamerupakan satu bagian dari investigasi secara keseluruhan. Si spesialis akan mencari informasi yang berkaitan dengan kejadian atau peristiwa yang sedang diinvestigasi, yang dapat dibatasi oleh surat perintah penyidikan, dan ruang lingkup lainnya.

Langkah pertama dalam proses ini adalah mengumpulkan bahan material untuk dianalisa. Ini mungkin tidak semudah kedengarannya. Personil penegak hukum akan dilengkapi dengan surat izin penahanan bukti material, sementara spesialis CF dapat diarahkan oleh perangkat apa yang dimiliki perusahaan tersebut. Bahkan dengan petunjuk yang jelas sekalipun, banyak item yang perlu dipertimbangkan untuk dikumpulkan dan diuji sebagaimana diperinci dalam bagian berikut ini.

Perangkat Computer
Saat ini perangkat komputer dapat ditemukan di banyak tempat (Gbr.4). Ini mencakup hard disk, zip disk, floppy disk, dan optical disk (CD dan DVD). Juga termasuk di dalamnya alat penyimpan data berkapasitas kecil maupun besar seperti USB Flash Drives (dengan berbagai versi tempat kaitannya seperti pada jam tangan, ballpoint, pisau swiss army) dan kartu memori.

Komputer & Perangkat Pendukungnya
Setiap bagian komputer perlu dipertimbangkan untuk diteliti, dan biasanya penting untuk mengambil keseluruhan perangkat tersebut. Spesialis tak dapat berasumsi bahwa bagian keyboard belakang yang dibawa ke lab sudah mewakili penahanan komputer utuh. Komputer yang ditunjukkan dalam gbr 5 mempunyai hardware utama yang mungkin akan diperhitungkan orang untuk dilihat saat reka adegan tindak kejahatan.


Hardware Komputer dan Jaringan Lainnya
Kata komputer harus diinterpretasikan secara luas dalam istilah CF yang mencakup tidak hanya desktop tradisional, notebook, sistem server, tetapi juga perangkat digital, termasuk router, kamera digital, mobile phone, dan PDA (gbr.6).
Rumah2 dengan koneksi jaringan broadband terus meningkatkan jaringan dengan rangkaian komputer dan sebuah router. Jaringan nirkabel (Wireless network) membuat relatif mudah untuk menyembunyikan komputer yang terangkai; sebuah komputer yang menggunakan jaringan wireless rumah dapat mencapai jarak 100 yard dari akses point wireless-nya, dan dengan demikian bisa disituasikan jauh dari struktur langsungnya.

Computer Software
Meskipun spesialis CF umumnya tidak dapat menjalankan software secara langsung dari drive yang dicurigai, adalah sulit untuk menyelidiki file2 tanpa software aplikasi yang tepat. Dalam beberapa kasus, pengguna komputer yang dicurigai bisa saja telah menginstal software khusus, yang disesuaikan atau yang sangat tua, yang biasanya akan menyulitkan spesialis CF untuk mengakses; dalam kasus tersebut, si spesialis perlu menginstal software yang ditemukan di lokasi pada komputer lab forensik. Ini hanya salah satu cara untuk menyelidiki situasi tempat di mana komputer ditemukan dan untuk mempertimbangkan penahanan media distribusi serta petunjuk penggunaan dari software apa pun yang kurang familiar bagi sang spesialis. Kertas2 dan buku2 yang ditemukan dekat komputer juga akan memberikan sang spesialis petunjuk dan penerawangan tentang pengguna dan tipe2 aplikasi yang mungkin akan ditemukan pada sistem tersebut.

Dalam Lab CF

Saat material yang dibutuhkan sudah ada di lab forensik komputer, investigasi dapat dimulai. Langkah2 dasar dalam analisa forensik komputer adalah:
1. Melindungi alat/media tersebut
Analisa CF tidak pernah dijalankan pada media aslinya, kecuali dalam situasi sangat luar biasa, karena alasan potensi terjadinya kecelakaan adanya perubahan pada bukti orisinil. Copy-annya juga harus dibuat sedemikian rupa agar informasi asli tidak dilanturkan dengan cara apa pun dan bahwa hal itu dapat diotentikan sama seperti mengisi informasi yang sama dengan aslinya. Proses ini dikenal sebagai penggambaran sebuah drive (imaging a drive).

2. Menyaring & Memilah bukti
Berdasarkan panduan investigasi, si spesialis perlu mempertimbangkan informasi seperti apa pada komputer tersebut yang berkaitan dengan kasus. Petunjuk2 untuk apa yang akan diselidiki bergantung pada tipe kasusnya. Spreadsheet, contohnya akan sangat relevan dalam kasus pemalsuan bisnis, sementara itu gambar penting dalam kasus dugaan pornografi anak2. Data chatting dan email bermanfaat dalam kasus pembicaraan cyber. Kata kunci, seperti frase2 terkait, istilah2 slang, nama-nama, lokasi2, dll, harus diperolah spesialis CF dalam kasus tertentu.
3. Menganalisa media komputer
Analisa aktual atas bukti dan penyebab awal dari kejadian merupakan aspek yang paling menyita waktu dari proses ini. Sangat penting untuk dicatat bahwa informasi yang diperoleh dari komputer bisa menjadi petunjuk awal adanya kesalahan maupun ketidakbersalahan. Lagi pula, sang spesialis harus memeriksa keseluruhan kapasitas dari medium tersebut (komputer) karena informasi dapat disembunyikan di mana saja. Gbr. 7 meringkaskan item2 umum yang biasanya diteliti saat investigasi CF dilakukan.
4. Mendokumentasikan hasil-hasilnya
Hasil2 uji CF harus didokumentasikan seluruhnya terutama jika pengujian tersebut dilakukan untuk tujuan proses hukum. Segala sesuatunya harus dicatat, mulai dari konfigurasi komputer dan setting-an BIOS hingga tiap langkah yang diambil oleh sang spesialis CF dan segala bukti terkait yang ditemukan. Semua perlengkapan komputer, perangkat, jaringan terhubung dan benda2 di sekitarnya, atau item2 lain yang dikumpulkan harus dibuat log, dan jika mungkin, fotografer perlu mendokumentasikan koneksi eksternal dan internal serta sikon lokasi. Penanganan worksheet (kertas kerja) alat bukti ditunjukkan pada gbr.8.
• Gmbar 8a adlah worksheet untuk mencatat bukti dari komputer.
• Gbr 8b adalah contoh worksheet yg digunakan untuk mencatat bukti dari hard drive.

Secara umum, alat2 CF telah dirancang khusus yang digunakan untuk melakukan suatu analisa untuk menjamin bahwa tidak ada informasi yang dimodifikasi pada target media (computer) dan bahwa penyeledikan yang dilakukan sudah menyeluruh. Mengurai dan mengurutkan (booting) perubahan2 dalam komputer yang berisi ratusan registry, log, dan file data sangat penting, karena itu hard disk asli tidak pernah boleh digunakan dalam proses booting computer. Lagi pula, banyak sistem operasi, seperti Linux dan Windows, menjaga penomoran waktu yang dilekatkan pada setiap file terkait, termasuk saat pembuatan, akses terakhir, data modifikasi terakhir (last modified date). Penggunaan perangkat sistem operasi biasa untuk memeeriksa isi file2 biasanya akan menyebabkan, paling kurang, perubahan pada data akses terakhir (last access date) file tersebut. Penggunaan alat analisa khusus mampu menjaga integritas data orisinilnya sehingga sang spesialis sendiri pun yakin bahwa hasil2 analisis tersebut valid secara legal maupun teknis. Sangat penting artinya menjaga jangan sampai ada kerusakan/gangguan terjadi pada bukti orisinil.




ALAT2 CF

Ada bermacam2 perangkat CF yang tersedia, masing-masing dengan aplikasi tersendiri, yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Sejumlah perusahaan membuat hardware CF, terutama untuk tujuan disk imaging (pemotretan disk). Digital Intelligence, misalnya, membuat beberapa perangkat hardware forensik, antara lain:
• Hardware ’The Forensic Recovery of Digital Evidence’ (FRED) – gbr.9a. Hardware ini adalah perangkat kerja forensic yang berdiri sendiri yang dapat merangkum data dari semua tipe hard disk, termasuk IDE, ATA, SATA, dan SCSI, juga floppy dan Zip disks. Sistem ini mencakup pula hard disk tetap untuk sistem operasi perangkat kerja dan perlengkapan analisis plus sejumbah penghubung bagi driver2 lain untuk di-insert atau dikeluarkan. Untuk aplikasi2 imaging, isi disket yang dicurigai dicopy ke sebuah disk kosong; analisis selanjutnya dilakukan di disket copy-an tersebut.
• Hardware ’The FireChief’ (gbr 9b). Hardware ini memiliki dua jalur removable hard disk (HD yang dapat dipindahkan), satu di antaranya write-protected – terlindungi secara tertulis- (untuk disk orisinil). Perangkat ini dapat digunakan untuk meng-copy satu disk dan dipindahkan ke yang lainnya. Alat ini terkoneksi ke computer melalui koneksi FireWire dan ini sangat ideal untuk menunjang perangkat kerja forensic berbiaya rendah.
• Hardware FireFly (gbr 9c) dapat dicolokkan secara langsung ke hard disk SATA atau IDE dan terhubung ke computer forensic melalui koneksi FireWire.


Dalam beberapa kasus, spesialis memilih untuk memotret hard disk langsung di lapangan daripada memindahkan seluruh perangkat komputer ke lab. Ini kerap kali menjadi pendekatan yang dipilih seandainya perangkat yang akan digambar/dipotret adalah server penting perusahaan. Penahanan perangkat komputer tersebut akan mengakibatkan problem ekonomi tak perlu bagi pemilik perusahaan. Perangkat seperti Intelligent Computer Solutions’ Road MASSter-II (gbr.10) adalah salah satu perangkat yang dimaksud. Patut dicatat bahwa ini tepat untuk penanganan kasus kecil.
Notebook mewakili tantangan khusus dalam analisa forensik karena banyak hard disk notebook yang memiliki tampilan khusus dan autoformat pemilik. Ada Hardware tambahan yang secara khusus dipakai untuk pemotretan (imaging) drive dari berbagai produk Dell, Gateway, HP, IBM, NEC, Toshiba, dan berbagai merek notebook lainnya.

Hal...

Perangkat analisis CF terpenting adalah software. Program khusus forensic yang paling banyak digunakan saat ini adalah EnCase (software Guidance-pemandu) dan Ultimate Toolkit, perangkat Access Data (gbr.11). Tidak ada satu program tunggal yang dapat menjalankan seluruh aspek analisis CF, meskipun sudah ada beberapa yang mendekati itu. Program2 tersebut menyediakan fungsi2 dengan jangkauan forensic yang luas (gbr.12)


Dalam Tugas CF

Seorang spesialis CF perlu memiliki pemahaman dan pengetahuan kerja yang mencakup jangkauan topik yang luas terkait komputer dan jaringan. Unsur paling esensial dari pengetahuan tersebut adalah pemahaman bagaimana file2 disimpan pada media penyimpanan (storage) dan berbagai sistem file yang dapat ditemukan. Bagian berikut akan mengilustrasikan beberapa tugas pokok spesialis CF saat mencari petunjuk2 (clues) dalam investigasi.

Menganalisa file2 yang dihapus (deleted files)
Pikirkan skenario yang ditunjukkan dalam Gbr 13.
• Gambar 13a menampilkan tersangka sedang memilah nama file2 yang terlibat dalam kegiatan kriminal.
• Gbr 13b menampilkan si tersangka sedang menghapus file2 tersebut.
• Gbr 13c menunjukkan spesialis CF sedang menggunakan program khusus untuk melacak dan menarik kembali file2 yang telah dihapus.

Menelusuri Rute Paket
Pengetahuan internet adalah salah satu skill yang esensial. Gbr.14a menunjukkan hasil Mc Avee’s Visual Trace, yang menyusun rute2 paket lanjutan antara komputer host lokal (altamont) dan sebuah Web Server (www.garykessler.net). Visual Trace adalah versi grafis dari penjejak/tracert (DOS) dan Traceroute (Linux) yang mengatur fasilitas jalur dan susunan daftar IP Address dari semua ’lompatan’ (sharing informasi) pada jalur tertentu antara dua komputer. Tampilan ini juga menunjukkan penundaan round-trip/perjalanan berkeliling dan dapat digunakan untuk menunjukkan informasi tentang siapakah yang ada pada tiap rute paket dalam jalur tersebut. Visual Trace juga dapat menunjukkan peta geografis jalur tersebut (gbr 14b).

Menganalisa Log ISP
Saat investigasi CF, spesialis dapat meminta data tercatat/log dari sebuah penyedia jasa internet (ISP). ISP tersebut akan mengirimkan log dimaksud, tapi data tersebut masih dalam format mentah yang memungkinkan data tersebut tetap aman.
Jika SMTP digunakan untuk mem-forward e-mail ke seluruh internet, protokol lain digunakan untuk mendownload email oleh klien. Satu protokol seperti itu adalah Post Office Protocol versi-3 (POP3). Gbr 1° pada halaman 607 menunjukkan rangkaian tiga catatan dari sebuah log pada server POP3 yang menampilkan data seorang pengguna yang login untuk mengecek dan men-download pesan email.. Semua catatan menunjukkan data (13 maret) dan waktu yang tertera pada host bernama Watson yang menjalankan layanan POP (ipop3d) dan akses oleh seorang pengguna pada host dengan IP address 192.168.187.35.

Menganalisa Log Chatting
Analisa log chatting adalah salah satu aspek penting dalam analisa jaringan. Log yang ditampilkan dalam gbr 1c pada halaman 607 adalah percakapan antara BettyF, billy89, dan anggota lain dari IRC Strong&40 channel. Meskipun percakapan ini relatif tidak berbahaya, analisa log seperti ini dapat menghadirkan atau membalikkan bukti percakapan cyber, konspirasi kriminal, spionase ekonomi, gangguan, atau hal2 lain yang menarik.

Menganalisa Jejak suatu Paket
Pemindai atau penjejak paket (Sniffer) adalah perangkat software yang penting dalam memahami lalu lintas jaringan. Sniffer memonitor semua yang terlihat pada port jaringan sebuah komputer dan menyimpan sebuah copy-an untuk analisa lanjutan. Salah satu penjejak paket/sniffer yang paling umum adalah tcpdump, fasilitas pengatur jalur untuk UNIX/Linux; WinDump adalah versi Windows-nya.


Menganalisa Perangkat Mobile
Mobile phone, PDA, dan kamera digital terus menjadi fokus penelitian forensik. Analisa atas perangkat2 ini menjadi spesialisasi turunan dalam CF yang terus berkembang. Kadang-kadang, analisa atas perangkat mobile lebih rumit dibandingkan analisa atas omputer, karena perangkat mobile memiliki keragaman konektor fisik, lingkup operasi, struktur file, format data, tampilan, personalisasi pengguna, pola-pola operasi yang sangat beragam. Perangkat mobile juga dapat berisi berbagai macam pengembangan kartu mulai dari flash memory hingga berbagai SIM Card.



Belajar Lebih Lanjut tentang CF


Setiap aksi pengguna pada komputer akan meninggalkan jejak. Menghapus file sesungguhnya tidak menghilangkan informasi. Bukti kegiatan komputer tersimpan di banyak tempat pada hard disk, beberapa di antaranya jelas terlihat tetapi yang lainnya sangat tersembunyi. Informasi tentang akses jaringan berpotensi tercatat pada banyak komputer melalui jaringan lokal dan internet global. Penelusural digital (digital track) ada di mana-mana.

Spesialis CF harus secara teknis dapat memahami dan menikmati permasalahan dan pemecahan teka-teki tersebut. Mereka harus menyadari batasan-batasan legal dan kebijakan2 organisasi yang mengatur apa yang dapat atau tidak dapat mereka lakukan.

Banyak sumber berita dan informasi tentang CF tersedia secara online. Dengan menggunakan portal Web seperti Goodle, Yahoo!, dan lainnya, Anda dapat menemukan link ke ratusan situs CF. Gbr 15 menampilkan sumber2 informasi mengenai CF dan alamat situs masing-masing.


Translasi

Jumat, 03 September 2010

EYING AT "DYING YOUNG"


Movie contains several important aspects to be set out. It includes art of performance. It is also one of the most optional entertainments for people at present time. More than just a performance or an entertainment, the filmmakers, movie creators, artists and the other focal figures involving in production always bring out some points of messages intended to spectators. Due to the purpose, the movie is disposed in several stages of manufacturing starting from research and script-writing processes up to the show or a well-structured and ready-watched film.

The appealing nuance of a movie lies on its plot. It composes and ties up the flow of the story entirely becoming a sequence of reciprocal, closely related and united scenes that perform an interesting narrative. The plot of a movie determines its meaning and tenet before spectators, and its successful film as well. Well-composed plot of a movie enables audience to comprehend intentional value(s) the filmmaker dares to communicate, without being biased by angle of twist.

“Dying Young” as a model movie comprises of those features above. Despite a merely sorrowful story just like the emerging trend of melodrama genre in today’s movie shows, Dying Young performs a more dynamic drama of life. Unlike more common narrative which distinguishes exposition of plot and setting in order to make it clear for audience, the storyline combines both main elements of each character along in a line. The exposition is devoid of confuting audience for its understandable and easy-analyzing embedded plot.

Starting with fairly fluctuate exposition, its tension raises along with the encounter between Hilary, a candy-striper, starred by Julia Roberts, who is looking for a job, and Victor Geddes (Campbell Scott), a wealthy young man who is suffering from blood cancer, as the employer. The difference of class becomes “clash of civilization” in term of lifestyle and way of thinking. Hillary with her quite free life and pure expression whereas Geddes junior as a well-educated and ordered noblesse-outlook, all them are mixed up in the encounter and close relation between the two children of the world that represent natural desire of human being to unify colorful perspective and diminish all kind of disparity. The Boss and the nurse are drunk of love to each other. Afterward, the affection almost immediately brings them on through all handicaps in the beginning, blinded by passion as usual beyond all shortcomings no matter how the differences could emerge any time.

The bittersweet relationship of the two protagonists inflicted with divergence and human’s state of limit culminate in the problem of trust. Thinking she was deceived by Victor about his improvement from the illness, desperate Hilary who hits upon heartbreaking fact that the beloved actually still suffers from wretched condition affected by 10 years fight against leukemia. She chooses to let him alone.

The ultimate climax finds its way to turn down when both of them are able to accept the limitations of each other. Hilary discloses her true love by letting Victor’s family knows his half-death condition. The ill-fated Victor with his suffering of Leukemia admits the presence and love of Hilary wholeheartedly. On the other hand, Hilary with her compassionate heart and mind gets rid of her reluctance to show her care and love to Victor attentively and affectionately.

That’s the point, no matter whatever could happen in the future, the plot has come to its conclusion. Whether Victor could survive or carry on fighting his unending illness, will Hillary endure in on-going problem of taking care a half-dead man or be trapped in restricted manner of aristocrat circle and so forth. The closing stages bring up a short underlined inspiration that “where there is love there is life”, as spoken by Mahatma Gandhi.

The movie explicates an honorable moral value and tenet that is compassionate love makes lose every boundaries. It revives the hopeless people and unlocks the closed mind. Last but not the least, Dying Young delivers more than just a drama of life but also a new perspective of thinking. It highlights a point to be thought over that tragic fortune should not come to its end by desperate feeling. It could be changed to peaceful dream by empathetic love of others who keep on caring and elucidating their love.

Kamis, 17 Juni 2010

“Senjata Rahasia Korea Utara”

kwangmyongsong.tumblr.com

Setelah pertandingan Portugal vs Pantai Gading berkesudahan dengan skor 1-1, komentator siaran berbahasa Inggris sempat beropini, hasil pertandingan kedua kesebelasan itu vs Korut yang akan menentukan tim negara mana yang akan lolos ke perdelapan final. Anda tentu marfum dengan maksud sang komentator, bukan! Brazil adalah raja grup maut tersebut. Sementara Portugal dan Pantai Gading memiliki peluang yang sama untuk menjadi nomor 2. Upaya kedua negara itu untuk mencetak gol sebanyak-banyaknya ke gawang Korut akan menjadi penentu tim mana yang akan mendampingi Brazil. Simple-nya, maksud sang komentator adalah Korut akan menjadi lumbung gol bagi tim-tim lain yang berupaya lolos dari grup maut ini.

Saya cukup terbawa oleh argumentasi tersebut. Saat menyeduh kopi buat begadang, yang ada di kepalaku adalah menantikan tarian samba bintang-bintang Brazil. Nama-nama seperti Kaka, Robinho, Fabiano hingga Maicon & Alves adalah jaminan mutu. Begadang rasa-rasanya tidak akan sia-sia bila yang akan tampil adalah figur-figur berteknik tinggi.

Korut??? Hehehe...tim ini sama sekali gak ada dalam imajinasiku, selain sebagai calon korban Lucio cs. Orang Eropa dan Amerika pasti berpendapat sama karena melihat Asia sebagai negara dunia ke-3 di jagad sepakbola. Apalagi, siapa sih pemain yang diharapkan dapat menciptakan sensasi di Afsel. Kalaupun mereka bertarung habis-habisan, mungkin itu karena adanya tekanan pemerintah otoriter komunis. Yeah, kira-kira seperti isu adanya ancaman khusus dari Il Duce Mussolini terhadap Giuseppe Meazza cs yang ”memaksa” mereka bertempur habis-habisan untuk menghadiahi sang tiran dengan Piala Dunia dua kali secara berurutan (1934 & 1938). Apalah artinya Timnas Korut di hadapan para pelakon jogo bonito. Menutup diri selama berbulan-bulan, menjaga kerahasiaan teknik & taktik latihan tidak menjadi jaminan sekumpulan pemain amatir Korut mampu melakukan mukjizat di Afsel. Selubung misteri yang menabiri kekuatan mereka sama sekali tidak ku pandang sebagai ancaman tersembunyi...Sekali lagi, yang ada di kepalaku hanyalah...itu hanyalah sekelompok manusia inferior yang mengalami dehumanisasi di bawah rezim diktator, yang mungkin akan berjuang habis-habisan agar tidak dihabisi.

Statement pelatih Korut, Kim Jong-Hun, tentang senjata rahasia yang disiapkan timnya guna menandingi 5x juara World Cup memang sudah ku tonton dalam siaran TV. But, itu tak mengundang perhatian khusus. Mirip para pengamat yang pandai, yang seakan-akan sudah mendapat bocoran langsung dari sang pelatih tentang apa senjata rahasia dimaksud, saya juga berpikir paling-paling taktik misterius itu adalah permainan ultra-defensif yang memang acapkali menyulitkan para penari Brazil dan kerap diterapkan tim lawan. Intinya, secara teknik-taktik, individu-tim, Korut jelas kalah kelas dibanding para sekumpulan maestro bola di tim Kuning-Hijau.

Pertandingan yang dinantikan pun tiba. Dan, 25 menit pertama yang mencengangkan membuatku, mungkin juga penonton lain, sadar apa sebenarnya senjata rahasia dimaksud. Pertandingan berjalan relatif imbang. Tak ada keraguan sedikit pun yang ditunjukkan Jong Tae Se dkk untuk meladeni aksi Brazil. Bisa jadi, yang terkejut dengan penampilan Korut bukan hanya penonton tapi juga lawannya, si peringkat satu dunia. Sepanjang babak I, Brazil praktis tak mampu mengeksploitasi kelebihan teknis pemain dan teamwork mereka. Alhasil, peluang matang jarang tersaji. Padahal, yang menjadi lawan mereka adalah partisipan dengan peringkat terendah, peringkat 106 dunia. Ya, mutatis mutandis, bak Lewis Hamilton bertarung melawan Rio Haryanto, hehehe.

Guys, saya sama sekali tidak melihat adanya gambaran ultra-defensif Korut yang didengungdengungkan para pengamat. Walau kemudian mereka dipaksa bertahan, itu bukanlah penerapan strategi taktis. Keunggulan teknik dan taktik tim Brazil lah yang memaksa mereka secara naluriah perlu bertahan. Tidak ada penumpukan pemain secara berlebihan.

Korut pun tidak menunjukkan permainan di bawah tekanan. Kepercayaan diri yang terpancar dari wajah para pemain, semangat juang yang tak kenal lelah menjadi mesin diesel yang terus memacu kekurangan teknis individual. Mereka menunjukkan jatidiri permainan sebagai hakekat manusia sebagai homo ludens. Ada hiburan, adalah perjuangan hingga akhir, ada senyum, ada emosi.

Dan, di atas semuanya, hanya satu pertanyaan penutup untuk Anda semua, guys, adakah yang sempat menyaksikan salah satu pemain Korut melakukan diving atau bertindak lebay layaknya pemain-pemain pro zaman sekarang? Saya jamin, hal itu tidak ada sepanjang pertandingan kemarin. Bro, mereka lebih profesional dari para pemain pro bergaji mahal. Jika para pemain Inggris dipandang sebagai para gentleman yang paling fair menjunjung sportivitas sepakbola, yang ditunjukkan Mun In-Guk dkk jauh di atas kelas fairplay ala Lampard & Terry yang sudah mulai terjangkit demam diving. So, Senjata rahasia Korut adalah mengembalikan sepakbola ke spirit awalnya, eksplorasi olah tubuh yang dipadukan dengan kemampuan akali memahami dan mengelolah taktik, suatu olahraga yang sportif sekaligus menyehatkan, perjuangan yang fair, persaingan yang mempersatukan, tak masalah siapa lawanmu. Prinsip itulah yang dipegang oleh Korut. Alhasil, mereka tidak tampak seperti Italia yang sudah dipastikan menerapkan strategi ultra-defensif setiap kali bertemu Brazil. Akhirnya, penampilan Korut layak ditunggu....

Rabu, 10 Februari 2010

Silakan Anda Menafsir


Berita awal November 09, Obama akan berkunjung ke China pada pertengahan November. Taiwan bergerak cepat melobi negara-negara yang dipandang bisa memasok persenjataan modern ke negara pulau itu. Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Il menegaskan tidak ada pelanggaran HAM di Korut. Di China daratan, gerakan antireformasi China bergerak luas. Kalangan bisnis US menuntut perlunya kebijakan dumping diberlakukan khusus dalam hubungan dagang dengan China. Apa hubungan kelima berita itu? Berita pertama, kunjungan Obama ke China, adalah trigger. Sedangkan, empat berita lainnya adalah penafsiran atas berita tersebut.

Sejak jaman perang sipil melawan CCP, Kaum Nasionalis di bawah pimpinan Chiang Kai-shek memilih mundur ke Taiwan. Dengan dukungan AS, mereka memilih memisahkan diri dari saudara tuanya, RRC. Karena itu, Taiwan merasa tersengat tiap kali ada gejala kedekatan antara US-RRC. Taiwan menafsirkan kunjungan Obama sebagai main mata antara US-RRC. Hal terpenting yang harus diperjuangkan Taiwan adalah eksistensi negara mereka. Tanpa dukungan US, jalan mempertahankan eksistensi itu adalah dengan memperkuat pertahanan negara/angkatan bersenjata.

Korea Utara dan RRC adalah sekutu sekaligus tetangga. Tentara CCP lah yang membantu memukul mundur pasukan sekutu Jenderal Mac Arthur pada PD II yang sebenarnya sudah hampir menguasai seluruh semenanjung Korea. Korut menafsirkan kunjungan Obama, sebagai pendekatan US melalui sekutunya untuk mengintervensi kebijakan pembangunan dan HAM di Korut.

Gerakan antireformasi di RRC digalang oleh kelompok tradisionalis yang beranggapan bahwa sistem politik dan paham yang dianut negara RRC saat ini telah membantu bertumbuhnya China menjadi Negara raksasa di dunia. Kedatangan Obama ditafsirkan sebagai upaya untuk mendukung gerakan reformasi yang digalang sebagian kalangan muda yang menuntut keterbukaan China.

Kalangan bisnis US yang kelimpungan menghadapi serbuan produk China sangat berharap Obama akan mengangkat isu hubungan dagang yang pincang dengan China. Peningkatan impor ke China sebesar 3,5 persen pada kuartal kedua 2009 berbanding terbalik dengan sejumlah larangan terhadap produk made in US yang diberlakukan RRC.
 
Yang terjadi kemudian dalam kunjungan tersebut adalah Obama bertemu dengan calon-calon pemimpin masa depan RRC di Shanghai, sebelum bertemu dengan Hu Jintao, Presiden RRC. Dalam pertemuan dengan Hu, Obama lebih menyoroti masalah HAM, terkait sejumlah kasus yang terjadi di Tibet dan Xinjiang. Topik hubungan dagang juga diangkat dalam pembicaraan Obama-Hu, itu pun tanpa ada tekanan terhadap pemerintahan Hu. Nah, gimana dgn isu lainnya: isu Korut, isu Taiwan, is gerakan reformasi/oba-mao (Zedong)? Mungkin dibicarakan, mungkin juga tidak sama sekali. Tapi semua yang terjadi pasti menyisakan dampak atau pengaruh. So, apakah tafsiran mereka menjadi nyata dalam pembicaraan Hu-Obama bukan sesuatu yang penting.
                                  ****************
Nah, the Komps, pengantar panjang dari situasi yang jauh dari kepentingan Indonesia itu bisa menjadi referensi atas apa yang terjadi di Indonesia. Di era keterbukaan, di alam demokrasi, di masa kebebasan berbicara dan berpendapat, semua orang berhak menafsirkan apa yang sedang menjadi sorotan umum. Ada kebebasan juga untuk mengungkapkan tafsiran atau opini saya dan Anda dalam berbagai bentuk ekspresi, entah karya seni, karya jurnalistik atau pun tulisan popular, hingga demonstrasi. Itu sesuatu yang sehat, dari aspek tertentu.

Dari kasus Century, Patung Obama, ulah supporter bonek Persebaya, cinta Nova, hingga penggunaan kondom, telah menyita perhatian banyak orang. Benar salahnya, penting tidaknya tafsiran atau pendapat bukanlah yang utama. Yang pasti semakin banyak orang yang sadar akan hak berekspresi. Buah dari ekspresi tersebut minimal mendatangkan pembelajaran secara personal.

Yang paling konyol, menurut saya adalah mempersoalkan apakah tafsiran, pendapat, ekspresi itu penting atau tidak. Dan, kepentingan itu diukur dari pandangan bahwa topik tersebut menyentuh intisari persoalan atau tidak...hehehe. Jadi, kalo sibuya jadi topik perbincangan, itu bukan soal penting atau tidaknya, itu soal ekspresi dan pendapat. Penafsiran atas sibuya pun termasuk di dalamnya. Kalau anggota Pansus sibuk mengomentari Ruhut Sitompul yang banyak ngelantur dalam rapat pansus Century, itu bagian dari tafsiran atas fakta tertentu yang ditemukan. Apa yang melatari ulah Ruhut, hanya dia yang tahu. Tapi jika ada yang ingin mendiskusikannya itu bukanlah pembicaraan yang remeh-temeh karena pasti ada titik pembelajaran yang bisa dipetik. Demikian pula kalau ada pendapat atau pembicaraan mengapa Nova meninggal rumah demi cintanya atau mengapa suporter bonek demikian nekat dan kerapkali berulah. Semuanya bagian dari realitas sosial yang menjadi bagian dari fenomena hidup.

Berbicara tentang fenomena, apa yang kita cerap secara kasat mata,secara indrawi, menurut pakar fenomenologi E Husserl, adalah fenomena (pheunomenon). Dari fenomena-fenomena itulah manusia harus menemukan noumenon atau intisari. Sebab itu, kalau memang ada skala perbedaan antara yang remeh-temeh, yang kulit luar, fenomena dengan hal yang penting, pokok, intisari/noumenon, yang harus dipahami adalah tanpa membedah tema pelengkap, kita tidak akan sampai ke poin utama. Tanpa mengupas kulit kita tidak akan sampai pada intisari. Tanpa mendalami fenomena kita tidak akan sampai ke noumenon.

Foto Obamao:“Obamao” From: http://afrocityblog.wordpress.com/2009/06/02/obama-motors-not-much-left-to-tse/

Minggu, 07 Februari 2010

Gelar Komunikator Politik Terbaik boeat Si Bapak

Presiden kita mendapat penghargaan Golden Standard Award untuk kategori Komunikasi Politik lho. Karena itu dia bisa dikatakan telah dianugerahi gelar komunikator politik terbaik di dunia. Senang juga mendengarnya. Namun, rasa senangku kali ini tanpa disertai apresiasi dan kebanggaan berlebihan, apalagi keharuan…hehehe. Why?
Si Bapak kan orang yang pertama kali saya pilih secara langsung sebagai calon Presiden pada 2004. Bukankah waktu itu saya memilih si Bapak karena kekaguman pada aspek-aspek simboliknya – kalau ibu2 mungkin karena faktor fisiknya …hmm.

Sejujurnya, saat itu saya tidak terperangkap oleh apa yang disebut sejumlah orang sebagai politik pencitraan dengan merepresentasikan diri sebagai pihak yang teraniaya, korban politik, suatu melancholic approach.

Sebagai mahasiswa yang mengental dengan lingkungan akademis, saya cukup terbawa oleh pola-pola yang mempararelkan kualitas kepemimpinan dengan standar-standar intelektualitas. Salah satu pengukur adalah kemampuan berbicara yang menarik dalam aspek tertentu. Itu berarti dasar pilihan saya waktu itu adalah kemampuan komunikasi si Bapak yang saya anggap lebih mengagumkan dibandingkan capres lain (ini refleksi post datum). So, bisa dikatakan bahwa saat itu mantan Menkopolkam ini menarik karena kecakapan berorasinya, bagian dari keunggulan komunikasi politik.

Kita bisa membanding-bandingkan kemampuan komunikasi verbal para presiden kita. Presiden Soekarno layak dikedepankan sebagai orator ulung. Daya magis perpaduan pilihan kata, skill komunikator, dan isi pidato yang membakar sangat tepat untuk membangkitkan semangat juang. Ia layak disebut sebagai seorang demagog, factor penting kepemimpinan saat perjuangan merintis kemerdekaan dan periode-periode awal kemerdekaan. Presiden Soeharto lebih mengarahkan perhatian pada komunikasi dialogis dengan public, sekaligus pressure method. Presiden Habiebie, maaf, secara subyektif harus saya katakan lemah pada harmonisasi antara mimic, gesture serta akselerasi dan intonasi penyampaian …hehehe kayak pakar aja. Presiden berikutnya adalah tokoh yang paling saya kagumi, Gus Dur. Walau lisan, isinya cemerlang. Hanya imbasnya bisa ngelantur, apalagi kerap disisipi guyonan khasnya. Maaf, tentang presiden yang satu lagi tak mampu saya deskripsikan karena katanya lebih berkomunikasi secara nonverbal…maaf..af…af.

Nah, si Bapak adalah orang yang menurut saya punya kemampuan berorasi paling menarik. Artikulasi yang jelas, gesture yang berwibawa, kalimat yang runut, mengusai detail – menunjukkan penguasaan materi dan adanya persiapan, dan….suka menyelipkan istilah, kata or frase English. Ditambah pembawaan diri yang terkesan santun, maka lengkaplah sudah unsur-unsur simbolik prasyarat calon pemimpin yang baik.

Kembali ke pertanyaan awal, mengapa saat apa yang menjadi kekaguman awal saya mendapat apresiasi yang lebih luas, level dunia, saya justru hanya sebatas senang?

Pertama, karena saya sudah cukup lama meninggalkan bangku akademik dan menggauli “dunia riil”. Upaya untuk menyelaraskan ilpeng ke tataran praksis akhirnya harus dihadapkan pada kondisi factual, kebutuhan logis, kesempatan, dan tentu saja keuntungan. Pragmatisme jelas lebih berkembang dibanding idealism. Karena itu ada perbedaan pula pada matra komunikasi antara yang simbolik dan riil, antara kesan dan fakta, antara fenomena dan noumenon. Anda juga pasti ingat saat si Bapak mengeluarkan pernyataan bernada ancaman kepada KPK, ia menyatakan KPK sebagai lembaga superbody… powerholder yang luar biasa…hati-hati! Ini kontradiktif dengan janjinya sendiri untuk memprioritaskan pemberantasan korupsi. Dalam dimensi berbeda, dari sisi pragmatis tidak tertutup kemungkinan adanya agenda setting di balik penganugerahan tersebut.

Kedua, semakin lama elemen artificial semakin bisa dipilah dari elemen riil. Seserius apa pun mimiknya saat mengatakan tidak mengenal siapa AA, tokoh politik dan pengusaha yang sering dikonfrontasikan media dengan menteri keuangannya, orang paham bahwa si Bapak sedang mencoba berakrobat kata-kata. Itu contoh kecilnya.

Ketiga, strategi lama yang dipakai terus-menerus bukan saja akan terkesan usang tapi juga kontraproduktif. Desain strategi komunikasi sebagai korban atau target (terror bom, fitnah, aksi-aksi politik) para lawan sudah tidak bertuah lagi. Kesan yang muncul jauh dari simpatik karena si Bapak sekarang dipandang sebagai pribadi yang terlalu melankolis, makin jauh dari criteria pemimpin yang diharapkan.

Keempat, factor pendukung, seperti framing isu, mulai kurang jelas terbaca. Entah karena problem identifikasi ataukah karena sudah dihadapkan dengan oposan yang berlapis-lapis, yang pasti nada-nada intimidatif dan tanpa dukungan bukti yang memadai makin sering terlontar.

Pola scapegoating atau pengkambinghitaman beberapakali ditempuhnya atas nama pencitraan. Kesan yang muncul, si Bapak kurang mampu mengkomunikasikan secara cerdas masalah-masalah urgen yang mengandung konsekuensi pertaruhan jabatan. Imbasnya, orang melihat si Bapak lebih sering lari dari tanggung jawab. Pengumuman kenaikan harga BBM oleh wapres JK, membiarkan Polri dan Kejaksaan dalam sorotan dalam kasus Cicak v Buaya. Ini menjadi alasan kelima.

Alasan keenam, serangan dari berbagai arah di lingkup domestic, bahkan dari mitra koalisi, menjadi fakta konkret belum terjalinnya komunikasi politik yang mendukung, baik pada level politik maupun stakeholder lainnya.

Alasan ketujuh adalah kombinasi antara komplikasi alasan-alasan di atas dan kesimpulan. Berbagai factor di atas di tambah realitas politik tanah air saat ini yang memanas jelas mengganggu konsistensi komunikasi si Bapak. Penampilan tak sesegar dulu – mungkin juga karena factor usia. Kata-kata sering tak terkontrol bahkan beberapa pernyataannya akhir-akhir ini dipandang sebagai tudingan naïf. Ada ketidaksigapannya menghadapi perkembangan isu-isu panas, akibatnya para deputi komunikatornya – dari jajaran partai dan pemerintahan – terkesan mendahului sang bos. Sayangnya, acrobat para deputi sering memperuncing masalah dan menciptakan opini yang semakin negative. Kontroversi seputar aksi Bang Poltak dan isu reshuffle bisa menjadi rujukan.

Pokoknya, dalam banyak hal SBY bukan yang dulu lagi. Maksudku, kemampuan komunikasinya tidak semantap beberapa tahun yang lalu. Karena itu, saya hanya sampai sebatas senang mendengar kabar adanya penghargaan tersebut. Lebih pas , menurutku, jika award itu diberikan pada empat or lima tahun lalu. How about you, frens??

Kamis, 04 Februari 2010

”Aku (Kebo) Memang bukan Manusia”, Curahan Hati Si BuYa

Mimpi apa aku semalam, kok, tiba-tiba dijadikan selebriti sehari. Aku sebenarnya tidak termasuk tokoh sentral pada kerumunan itu. Sejujurnya, aku hanya ikut-ikutan, lebih tepatnya sengaja diikutsertakan. Dalam bahasa dramatis bin hiperbola kalangan media, kehadiranku sebenarnya direkayasa orang-orang tertentu dengan motif yang tidak ku ketahui.

Tapi, kamu pasti melihat kalau justru aku yang lebih banyak mendapat sorotan. Entah karena bobotku yang jauh lebih berat dari yang lain ataukah karena bentukku yang berbeda, mungkin juga karena aku tampil natural n transparan tanpa ada yang ditutup-tutupi, ratusan jepretan foto dan sorotan kamera pada tanggal 28 Januari 2008. Aneh. Setahuku di dunia yang beradab ini riasan adalah unsur penting, bukan pelengkap lho, untuk menjadi fokus perhatian.

Hanya saja, sekarang aku ingat, Man. Ada yang aneh. Semua mereka lebih memilih angle bagian samping dan belakang alias bokongku. Dada dan perutku sih nggak masalah. Lha ini bokongku yang dieksplorasi kamera dan dipublikasikan habis-habisan. Ihh...najis, apa maksudnya? Sayang, saya tidak bisa menuntut kalian atas tindak abusing, pelanggaran etika, apalagi untuk memanfaatkan UU APP.

Btw, menurut analisaku, hehehe, mungkin bukan badan apalagi bokongku per se yang menyebabkan perhatian begitu banyak orang tersita. Seingatku, saat itu ada yang ditempelkan di kedua sisi bokong yang berotot ini dan ada pula tulisan di badanku. Soal tulisan saya nggak mau ambil pusing. Itu kan tulisan namaku. Kalian sebagai ens symbolicum silahkan menafsirkan. Kalian disebut makhluk simbolik kan karena hobinya bermain simbol dan menafsir. Entah itu sebagai game of symbol ataukah sekedar pemaknaannya, nggak ngurus! Entah yang mau ditafsirkan adalah eksistensiku sebagai tanda ataukah atribut yang dilekatkan pada ku sebagai simbol, aku nggak peduli. Apalagi urusan perbedaan tanda dan simbol, tanda yang memiliki arti yang jelas (mis. Rambu-rambu lalin) dan simbol yang menyembunyikan makna, sifat subyektif atau obyektif pemaknaan atas simbol tertentu...hehehe...itu sih tetek bengek yang bikin puyeng kepalaku.

Yang bikin aku tersiksa adalah gambar dibokongku. Pasti kalian lihat ekor ku yang tak berani ku kibas-kibaskan. Kalau itu maknanya jelas = tanda bahwa aku lagi cemas plus takut. Itu pasti. Dikerubungi begitu banyak makhluk asing, diseret ke sana-kemari, tak ada rumput, air, dan lumpur, wah..wah..wah..pengalaman yang mengerikan. Lagi pula, gambar itu menutupi diriku. Aku nggak suka menutup-nutupi diri dengan alasan atau motif apa pun. Itu namanya pelecehan terhadap hak kebinatanganku. Selain itu, bokongku adalah tempat sobat-sobitku lalat n beberapa jenis serangga lain mencari makan. Mereka lah yang membantuku membersihkan sisa-sisa kotoran yang melekat di area tersebut. Makanya wilayah tersebut terlihat beda warnanya, terkesan lebih bersih cemerlang n kinclong kan...hahaha. Menutupi bokongku menyebabkan terganggunya simbiosis mutualisma yang terjalin antara saya dengan serangga-serangga itu. Mereka pasti menderita karena kehilangan sumber makanan.

Tapi, soal itu pasti tidak masuk dalam kerangka pemikiran kalian. Kalian kan punya standar nilai dan alur berpikir logis yang menjadikan kalian Yang Ada, Yang Beradab (ens morale, homo ethikos), beda dengan kami dari golongan binatang. Karena itu pula kami tidak memiliki hak dan martabat. Saya tahunya sekedar mengikuti ke mana empuku menggiring. Ikut menandakan kejinakan saya, kalau mau lebai silahkan artikan mengikuti sebagai tanda kesetiaan saya. Itu yang membedakan saya dengan saudara-saudara tuaku banteng dan bison yang susah dipegang dan hobinya sruduk sana sruduk sini alias liar. Sayangnya kejinakan saya kurang dihargai kalian dan diumpamakan secara peyoratif: bak kerbau dicocok hidungnya! Apa itu bisa disamakan dengan bodoh dan kurang berwawasan? Entahlah, kalian yang membuat perbandingan dan kalian juga yang harus memaknainya. Kalau aku sih beranggapan kelompok kami (kebo) tidak bodoh-bodoh amat. Minimal tidak seperti katak di bawah tempurung lah.

Oh iya, dengar-dengar, ada yang tersinggung dengan kehadiranku di kerumunan itu. Dia nggak suka disamakan dengan golongan kami, entah karena namaku mirip namanya atau karena fotonya ditempelkan di bokongku.

Pertama, perlu saya klarifikasi ya (laik selebriti yang jadi korban gosip infotainment), merujuk pada istilah umum di atas (kerbau dicocok hidung), sudah jelas bahwa saya tidak bersalah. Faktanya, ada tali yang melilitiku. Dan, saya benar-benar diseret ke sana ke mari, tanpa tahu untuk apa dan untuk kepentingan siapa. Kalian menyaksikannya bukan? So, please, jangan libatkan aku dalam masalah yang jauh dari domain saya. Kedua, nah, aku akan coba deh utk masuk dalam cara berpikir dan bertindak kalian yang katanya tidak hanya berlandaskan abstraksi logis tetapi selalu merujuk pada standar nilai kemanusiaan. Kalau namamu, Man, dimiripmiripkan dengan namaku, senang nggak? Kalau aku, Si BuYa, dipersonifikasikan, meminjam bahasanya Mas Tukul, Sorry ya, nggak level!. Yang berikut, kalau fotomu, whoever you are, dipasang di bokongku, kamu bangga atau merasa dihina sih? Silahkan memaknainya sendiri-sendiri dan nggak perlu lagi berdebat soal simbol, tanda, representasi, etc.

Sebenarnya aku tak silau man dengan menjadi primadona. Jujur saja, aku lebih suka berendam sejam di kubangan lumpur daripada jadi pusat perhatian. Persis di situlah bedanya aku dengan kalian, si kaki dua, maaf, begitu aku biasa memanggil kalian yang sejenis dengan empuku...hehehe.... Lebih lagi, aku nggak pernah bangga bila memancing kontroversi. Sori ya, aku nggak benar-benar nggak butuh butuh kontroversi untuk menjadi terkenal...hehehe. Biarkan aku tetap berlumur lumpur di tengah sawah karena setelah itu saya akan menjadi raja sementara: diberi makan dan dimandikan. Biarkan aku tetap bisa mengibas-ngibaskan ekor sambil menikmati hidangan rumput karena dengan itu saya bisa bermain-main dengan lalat sekaligus menjaga kebersihan area sensitifku...hehehe.

Akhir kata, ini bukan pembelaan diri, Man! Kalau kalian, si kaki dua, terlalu sering mengucapkan kalimat self-defense bertuah, ”Aku or Si Anu juga Manusia”, aku sih nggak butuh kata-kata apologi seperti itu. Karena di atas semuanya, jujur aku katakan: “Aku memang bukan manusia”.

Senin, 02 November 2009

Kata Mereka tentang Penahanan Pimpinan nonaktif KPK dan Polemik KPK-Polri:

Inilah pendapat sejumlah tokoh yang dilansir media terkait penahanan dua pimpinan nonaktif KPK dan kisruh yang melibatkan KPK-Polri-Kejagung

• Hadi Utomo, Ketua Umum Partai Demokrat: Presiden Yudhoyono tidak akan pernah ikut campur tangan berkaitan dengan masalah substansi hukum. Namun, kalau ada masalah antarlembaga, Presiden ikut membantu penyelesaiannya. Bahkan, Presiden mengatakan, KPK harus tetap dipertahankan.

• Djoko Suyanto, Menko Polhukam: Presiden ingin berdiskusi langsung dengan para tokoh yang selama ini dianggap banyak menyampaikan pendapat seputar kasus Bibit dan Chandra. (Soal TPF) Belum ada rekomendasi nama anggota. Tapi sudah ada bayangan kalangan mana saja yang akan jadi anggota.

• Irjen Dikdik Mulyana Arif Mansyur, Wakabareskrim Polri: Keduanya mempersulit penyelidikan. Persyaratan obyektif dan subyektif terpenuhi. Persyaratan obyektifnya, Chandra dan Bibit diancam hukuman di atas lima tahun. Adapun persyaratan subyektifnya, Bibit dan Chandra dikhawatirkan melarikan diri, menghilangkan barang bukti, dan mengulangi perbuatannya. Tersangka bisa setiap saat jumpa pers. Ini indikasi tersangka mempengaruhi publik sehingga mempersulit pembuktian.

• Danang Widoyoko, Wakil Koordinator ICW: Polisi kalap. Mereka memang punya kekuasaan menahan, tapi tidak boleh asal menahan. Saya meyakini 99 persen rekaman itu benar adanya. Seharusnya, kebenaran rekaman itu dijelaskan dulu kepada masyarakat agar mereka memperoleh informasi lengkap. Ini belum ada pembuktiannya, mereka sudah ditangkap.

• Teten Masduki, Sekjen TI: Polisi mulai panik lantaran transkrip, mereka goyah. Polisi merasa diragukan kualitasnya oleh masyarakat. Polisi ingin menunjukkan bahwa bukti mereka kuat, hingga Bibit dan Chandra layak ditahan.

• Bambang Soesatyo, anggota Komisi Hukum DPR: Polisi harus bisa membuktikan alasan penahanan itu. Kalau tidak, ini bisa menjadi bumerang bagi institusi polisi. Polisi harus bisa menjelaskan soal kasus Bibit dan Chandra secara gamblang.

• Chaidir Ramli, Karo Hukum KPK: Kalau tidak ditandatangani ya sah-sah saja, cuma, itu sebagai bentuk bahwa kita komplain.

• Erry Riyana Hardjapamekas, mantan Wakil Ketua KPK: Jika mereka ditahan karena sangkaan penyalahgunaan wewenang, misalnya karena mencabut cekal, maka itu adalah salah satu kewenangan KPK. Apa yang mereka lakukan, pernah juga kami melakukannya di masa yang lalu. Jadi, saya datang ke Mabes Polri minta ditahan. Kalau kami nanti tidak ditahan, kami merasa tak adil.

• Yunus Husein, Ketua PPATK: Tak menemukan aliran dana dari Ary Muladi kepada Bibit dan Chandra.

• Djoko Suyanto, Menko Polhukam: Pihak KPK juga harus mengikuti proses hukum ini. Kalau Polri mengatakan itu sudah sesuai prosedur, ya lakukan dengan baik.

• Tumpak Hatorangan Panggabean, Plt Ketua KPK: Dua rekan kami pimpinan KPK yang nonaktif itu telah melakukan penahanan paksa oleh penyidik. Maka, pimpinan KPK merasa ini suatu keprihatinan dan akan memberikan bantuan hukum secukupnya.

• Achmad Rivai, Anggota Tim Kuasa Hukum Bibit-Chandra: Pasti ada muatan politis. Itu (sering jumpa pers) alasan yang tidak masuk akal. Saat ini klien kami nonaktif, jadi sangat tidak mungkin bila dikatakan mengulangi perbuatannya. Mereka tak mungkin membuat kebijakan baru. Kenapa kronologi yang dibuat pihak Anggodo maalah dijadikan dasar hukum? Padahal Ari Muladi telah mencabut pernyataannya. Ini aneh. Ini merupakan penegakan hukum terburuk di Indonesia.

• Adnan Buyung Nasution, Anggota Watimpres: Saya pikir Jaksa Agung, KPK, dan Polri harus duduk bersama mencari solusi masalah ini.

• Imam Prasodjo, Penggiat Demokrasi: Banyaknya tokoh yang simpatik menandakan bahwa publik percaya kepada Bibit dan Chandra. Insya Allah orang seperti Pak Bibit dan Chandra itu, selama ini lihat track record-nya, lalu tertib melapor, ya bisa dipercaya.

• Akil Mochtar, Hakim MK: Ini negara demokrasi, bukan sosialis. Kalau karena jumpa pers saja ditahan, ini negara fasis. Setiap warga negara mempunyai hak dan kedudukan yang sama di mata hukum. Sehingga posisi penyidik dan tersangka seharusnya diposisikan secara seimbang. Alasan penahanan Chandra-Bibit berlebihan. Sebab, setiap orang berhak mengeluarkan pendapat.

• Khaidir Ramli, Kepala Biro Hukum KPK: Ya, kecewa. Langkah pertama yang disiapkan KPK saat ini adalah secepatnya mengajukan permohonan penangguhan penahanan.

• Maswadi Rauf, Pakar Politik UI: Presiden hanya menjelaskan kekecewaannya bahwa namanya disebut-sebut. Belum ada solusi berarti kecuali pengusutan itu. Dengan pernyataan tersebut, penahanan yang dianggap solusi malah makin ditentang. Sementara ahli hukum, LSM dan tokoh masyarakat punya pendapat yang sama kecuali polisi. Jadi pertentangan ini harus dijawab Presiden. Penjelasan Presiden seharusnya bisa memberi keyakinan bahwa polisi benar dalam bertindak.

• Saldi Isra, Pakar Hukum Tata Negara Universitas Andalas: Apa yang disampaikan Presiden dan Kapolri hanya merangkum semua yang sudah ada. Bisa dibilang curhat. Hanya sekarang melalui Kapolri dan Presiden. Dia (Kapolri) bilang akan melakukan tindak lanjut pembocoran rekaman, itu ancaman. Dan bisa jadi pintu masuk mempersoalkan hukum pimpinan lainnya.

• Bambang Harimurti, Wartawan Tempo: Jika pesan “Bersama Kita Bisa” ternyata manjur meyakinkan puluhan juta pemilih, seharusnya tidak sulit bagi SBY untuk mengajak KPK dan polisi bekerja sama memberantas korupsi di negeri ini. Maka soalnya bukan lagi mampu atau tidak melainkan mau atau tidak.

• Dino Patti Djalal, Jubir Kepresidenan: Tindakan itu (pencatutan nama presiden) adalah ilegal dan presiden mengatakan belum mendengar, Presiden ingin ini diusut dan ditindaklanjuti secara tuntas. Presiden SBY meminta pencatutan namanya diusut tuntas dan ditindalanjuti secara hukum. Pencatutan nama itu serius.

• AH Ritonga, Wakil Jaksa Agung: Kalau memang tidak terbukti, jangan kawan (Chandra dan Bibit) dizalimi. Jangan lama-lama digantung dan jangan dipaksakan. Terbukti atau tidaknya merupakan tugas penyidik. Kejaksaan hanya menerima dari hasil penyidikan Mabes Polri. Saya adalah korban (soal transkrip). Sebagai korban tentu perasaan saya akan terpancing dan tentunya kurang obyektif.

• Irjen Nanan Soekarna, Kadiv Humas Polri: Sebaiknya siapa yang mengedarkannya diperiksa, karena (rekaman) iu bagian dari penyidikan KPK.

• Teten Masduki, Sekjen Transparency International: Polri seharusnya mengeluarkan SP3 terhadap Chandra dan Bibit. Pasalnya, dari sisi substansi dakwaan sangat lemah. Beredarnya transkrip kian memperjelas kriminalisasi.

• Bonaran Situmeang, Pengacara Anggoro Widjojo: Kami tak pernah mencatut nama SBY. Presiden seharusnya mencermati dengan saksama, betul atau tidak transkrip dari rekaman pembicaraan.

• Denny Indrayana, Staf Khusus Presiden Bidang Hukum: Kalau bicara pencatutan, aparat hukum (adalah) aparat yang berwenang. Sudah jelas itu. Masing-masing perlu mengambil langkah-langkah untuk mengklarifikasi, kemudian memperjelas mana yang fakta, mana yang bohong.

• Brigjen Sulistyo Ishak, Wakadiv Humas Polri: Karena belum ada kepastian tentang kebenaran isi transkrip, polisi tidak bisa bertindak. Kalau memang ada pelanggaran hukum, baru kami proses.

• Zainal Arifin Mochtar, Direktur Pukat UGM: Akan terlihat bahwa sebenarnya KPK menyadap dalam kaitannya dengan penyelidikan dugaan terjadinya kasus korupsi. Penyadapan itu menjadi halal.

• Teras Narang, Gubernur Kalteng: DPR, khususnya komisi III, sebagai pembuat undang-undang dan pengawas pelaksanaan undang-undang hendaknya segera mengundang dan mempertemukan KPK, kepolisian, dan kejaksaan.

• Erry Rijana Hardjapamekas, mantan wakil ketua KPK: Pada batasan tertentu, Presiden bisa berperan untuk menengahi persoalan yang terjadi antarlembaga negara.

• Edy Suandi Hamid, Ketua Forum Rektor Indonesia: Tak cukup hanya dengan pernyataan normatif. Saatnya Presiden bersikap jelas, apakah mau berpihak kepada pemberantasan korupsi atau sebaliknya.

• Hikmahanto Juwana, Guru Besar Ilmu Hukum UI: Hal ini dilakukan untuk menepis dugaan penahanan dilakukan dengan rekayasa. Kita berempat tidak menganggap Pak Bibit dan Chandra tidak bersalah, karena ini proses hukum. Yang kita harapkan proses berlangsung transparan untuk menepis kecurigaan sehingga tidak memunculkan gangguan sosial politik. Dari sini kita bisa melihat fakta, apakah bukti yang dimiliki polisi dan pasal yang disangkakan itu benar atau tidak. Jika Presiden ikut andil dalam proses penyelesaian kasus ini, bukan sebuah pelanggaran karena mencampuri urusan penyidikan Polri. Sebab, berdasarkan Pasal 8 ayat 1 UU No 2/2002 tentang Polri, kedudukan Polri berada di bawah Presiden. Kalau dukungan masyarakat tidak diredam,akan jadi kekuatan masyarakat. People power melawan kekuasaan akan menang karena masyarakat sudah muak dengan korupsi.

• Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah: Kalau tentang ikut serta menjaminkan itu saya siap. Karena selama ini proses penahanan menunjukkan ada masalah.

• Mahfud MD, Ketua MK: Anggoro kan menyerahkan duit melalui Anggodo dan diteruskan ke Ari Muladi, ini kan bisa diduga sebagai upaya percobaan penyuapan. Kenapa tidak dijadikan tersangka? Kanapa orang yang dikatakan tidak menerima uang itu, kok ditahan. Ini aneh.

• Denny Indrayana, Staf Khusus Kepresidenan Bidang Hukum: Perlu dilakukan pendalaman terhadap dua bersaudara, Anggodo dan Anggoro. Karenanya perlu didalami dengan penyelidikan yang profesional apakah tindakan demikian termasuk tindak pidana korupsi atau penyuapan kepada aparat penegak hukum.

• Kompol, Ketut Yoga Ana, Kabid Penerangan Umum Mabes Polri: (Terkait penahanan Anggodo) Itu semua tergantung penyidik. Penyidik dalam bertugas bersifat mandiri dan penuh pertimbangan. Tahan-menahan tergantung penyidik.

• Goei Siauw Hong, Pengamat Pasar Modal: Perseteruan ini bisa memukul bursa saham kita. Makanya presiden harus tegas menyelesaikan masalah ini. Jika terus berlanjut, kondisi terburuknya adalah kerusuhan 1998 terulang dan pasar finansial bisa crash.

• Edwin Sebayang, Kepala Riset Financorpindo: Kisruh Polri dan KPK mulai menjalar ke ranah politik. Bukan mustahil pula, masalah ini bisa meledak menjadi konflik dan sosial. Ini yang menjadi kekhawatiran pasar.

• Anies Baswedan, Rektor Univ. Paramadina: Semangat pertemuan adalah menjaga pemerintahan dan bangsa, serta memerangi korupsi, bukan memerangi lembaga yang memerangi korupsi. Jadi perangnya melawan korupsi, bukan melawan KPK. Dengan frame tersebut masalah yang terjadi antara Polri dan KPK bisa dilihat secara obyektif.

• Benny K Harman, Ketua Komisi Hukum: Jaksa Agung Hendarman Supandji dan pimpinan KPK juga akan dipanggil (selain Kapolri). Bisa minggu depan (pekan ini) juga. Kami ingin penegak hukum mengambil langkah yang lebih cepat dan sebisa mungkin terbuka bagi masyarakat. Kasus ini merupakan ujian kredibilitas para penegak hukum, terutama untuk pihak kepolisian.

• Nursyahbani Katjasungkana, Wakil Ketua Umum PKB: Ini bisa jagi puncak kebencian kepada polisi. Logika umum tidak bisa menerima cara-cara polisi. Kalau polemik terus berlangsung, ini seperti negara tanpa pemerintahan. Institusi berjalan sendiri-sendiri. Membahayakan citra SBY sendiri. Kapolri ini sudah tidak netral lagi karena ada anak buahnya yang diduga terlibat.

• Hazrul Azwar, Ketua Fraksi PPP: Menghargai sikap SBY yang dalam jumpa persnya beberapa hari lalu mengatakan akan berdiri paling depan jika ada pihak yang ingin membubarkan KPK. Namun, kami harapkan implementasi di lapangan harus lebih jelas. Pemanggilan tidak akan dianggap mengintervensi karena sudah terjadi pro dan kontra di masyarakat.

• Nasir Jamil, Anggota Komisi Hukum F-PKS: Paling tidak mencari tahu siapa dalang semua ini. Karena kami yakin ada dalangnya.

• Teten Masduki, Sekjen TI: Ketidakpercayaan masyarakat bukan saja pada kasus penahanan Bibit, tapi dari proses-proses sebelumnya.

• Rijalul Imam, Ketua KAMMI: Kita masih melakukan konsolidasi dengan teman-teman lain seperti PB HMI, PMII, IMM, GMNI, GMKI, PMKRI. Diperkirakan yang akan ikut aksi 1.000 orang. Selain di Bundaran HI, kami juga mempertimbangkan akan ke Istana Presiden, KPK, dan Mabes Polri. Kita minta SBY untuk segera turun tangan.

• Arip Mustofa, Ketua PB HMI: Yang akan mengisi mimbar bebas itu selain pimpinan lembaga kemahasiswaan, juga Muhammad Rifai (kuasa hukum Bibit-Chandra), budayawan Ridwan Saidi, Fuad Bawazier, dan Eggi Sudjana. Aksi juga difokuskan di depan Istana Presiden, KPK, dan Mabes Polri. Sedangkan untuk HMI cabang di daerah akan melakukan aksi di Polda atau Polres.

• Teten Masduki, Sekjen TI: Aksi akan diikuti ratusan mahasiswa dan seluruh LSM di Indonesia, dengan membagi-bagi pita hitam ke masyarakat.

• Benhard Nababan, Aktivis Migrant Care: Kami mengajak masyarakat untuk menyatakan ‘Hari Berkabung Nasional’ sejak Senin, 2 November 2009 sampai dibebaskan Chandra M Hamzah & Bibit Samad Rianto.

• Adnan Buyung Nasution, Anggota Wantimpres: Polisi sudah bertindak terlalu jauh.

• Rachmawati Soekarnoputri, Anggota Wantimpres: Jika bukti awal sudah kuat tentang keterlibatan Anggodo, maka sebaiknya polisi menahan Anggodo. Yang diduga aktor intelektual kan ada dua, Anggoro dan Anggodo.

• Mahfud M.D, Ketua MK: Memang benar, rekaman itu kami perdengarkan semuanya agar lebih transparan. Rekaman itu untuk meyakinkan hakim dalam menguji pasal itu. Prinsip penegakan hukum itu keterbukaan. Kalau MK ikut menguji (kasus pidana), itu sama dengan merusak sistem hukum. Rekaman itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan upaya kepolisian. Kalau kepolisian ada upaya menghalang-halangi, justru kami mempertanyakan ada agenda tersembunyi apa dari kepolisian. Ya, kalau ada yang tidak beres dalam isi rekaman itu, polisi bisa mengusutnya. Usut saja siapa yang terlibat dalam rekaman itu.

• Taufik Basari, Pengacara Bibit dan Chandra: Semua pihak harus menghormati sikap MK. Ini sudah perintah pengadilan. Jadi, tak ada pihak mana pun bisa mengintervensi. Jadi harus dihargai.

• Bambang Trisulo, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia: Jika kasusnya berkepanjangan, akan mempengaruhi investor yang ingin berinvestasi di Indonesia. Dampak dari polemic penahanan Chandra-Bibit tidak akan dirasakan pada saat ini. Tapi bila kasus tidak segera diselesaikan, dalam jangka menengah hingga jangka panjang pengaruh terhadap investasi asing akan terasa. Jadi, terlepas dari siapa yang salah, kasus tersebut harus segera diselesaikan.

• Thomas Darmawan, Ketua Komite Tetap Pengembangan dan Pemasaran Produk KADIN: Investor asing dipengaruhi oleh bagaimana pemerintah menangani korupsi. Saya berharap suasana yang sedang memanas ini segera jernih.

• Silmy Karim, Wakil Ketua Hipmi: Saya lihat, seminggu lagi belum selesai, maka risiko yang ditanggung cukup besar. Dunia usaha ingin kestabilan hokum untuk menjaga kepercayaan investasi. Sehingga kisruh KPK akan menjadi potret wajah Indonesia di mata investor asing. Jangan sampai pesan ini membuat mereka tak percaya pada Indonesia.

• Dradjad Wibowo, Pengamat Ekonomi: Investor akan beranggapan bahwa bisnis di Indonesia harus dekat dengan penguasa. Hal itu akan mengembalikan kolusi antara penguasa dan pengusaha nakal, seperti yang terjadi di masa lalu. Korupsi di Indonesia dan hokum bukan hanya bisa dibeli, tapi juga diamankan kalau mereka bersahabat dekat dengan kelompok pengusaha.

• Jenderal Bambang Hendarso Danuri, Kapolri: Di mana pun transkrip (rekaman) ada, akan disita karena sudah masuk ranah proses lidik dan sidik.

• Mas Achmad Santosa, Wakil Ketua KPK: Belum ada pemberitahuan dari Polisi (terkait penyitaan transkrip). Jika pun disita polisi, Mahkamah Konstitusi tetap dapat memerintahkan siapa saja yang menyimpan bukti rekaman itu, termasuk kepolisian, untuk diserahkan ke persidangan Mahkamah Konstitusi.

• NN, Sumber JPNN: Tidak semua orang bisa mengetahui isi rekaman atau mengakses tempat rekaman suara itu dibuat. Semua yang bekerja di area itu tidak bisa sembarangan. Penyidik atau pimpinan KPK yang berkepentingan dalam penanganan kasus korupsi sekalipun tak bisa sembarangan meminta rekaman. Harus ada prosedurnya dan itu sangat ketat. Sangat-sangat tidak mungkin bisa ditambah atau dikurangi, sebab keasliannya bisa dianalisis.

• M. Jasin, Wakil Ketua KPK: Semua kami antisipasi.

• Johan Budi S.P., Juru Bicara KPK: KPK akan mematuhi perintah pengadilan. Kami serahkan kepada MK. Mau dibuka atau tidak, itu terserah mereka.

• Febri Diansyah, Peneliti hukum Indonesia Corruption Watch (ICW): Tidak perlu menunggu. Harapannya, saat sidang (persoalan) itu sudah klir. MK harus menjadi bagian untuk mengungkap rekayasa kasus itu. Untuk menjaga independensi, bisa dipertimbangkan jangan ada unsur dari kepolisian, kejaksaan, dan KPK dalam tim itu.
• Djoko Suyanto, Menko Polhukam: Simpati itu sangat diakomodasi, tetapi dengan tetap mengedepankan serta menjaga keharmonisan kehidupan sosial dan politik.

• Hikmahanto Juwana, Guru Besar Ilmu Hukum UI: Kapolri bisa melakukan gelar perkara untuk kasus Pak Bibit dan Pak Chandra dengan melibatkan ahli independen yang dipercaya masyarakat. Itu untuk menilai apakah langkah polisi sudah tepat. Alternatif lainnya adalah mengusulkan pembentukan tim pencari fakta (TPF) dengan melihat bukti-bukti dan pasal-pasal yang disangkakan kepada dua pimpinan nonaktif KPK tersebut. Yang terpenting, mereka yang terlibat dalam kasus tersebut harus diproses. Langkah itu bertujuan untuk menjamin transparansi. Namun, segala sesuatunya terpulang kepada presiden.

• Anies Baswesdan, Rektor Univ. Paramadina: Kami sampaikan secara terbuka bahwa ada upaya sistematis un¬tuk melemahkan KPK. Di saat lembaga negara lain tak bisa diharapkan, KPK muncul membawa harapan masyarakat. Namun, tidak ada ke¬simpulan dari pertemuan tersebut. Termasuk kepastian apakah benar-benar akan dibentuk tim independen. Sebab, SBY hanya mendengarkan masukan, tidak memberi kejelasan sikap dan tindak lanjut.

• Gus Dur, Tokoh Nasional: Kalau sudah ada ratusan tokoh, saya siap menjaminkan diri pula.

• KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum PB NU: Kalau mau tuntas, kepala negara harus turun tangan. Ini sudah bergeser dari kasus perorangan. Sekarang sudah timbul ketidakpercayaan di antara masing-masing lembaga di negeri ini. Kuncinya ada kepada presiden. Peristiwa semacam ini bukan hanya kasuistis, tapi satu titik saja dari garis bengkok keadilan hukum. Itu bukan intervensi. Disebut intervensi kalau dia (SBY) punya mau sendiri dan hukum punya mau sendiri.

• Tumpak Hatorangan Panggabean, Plt Ketua KPK: Kami mengajukan permohonan kepada penyidik supaya penahanan itu ditangguhkan. Biro Hukum KPK juga ada di Mabes Polri, dan tentunya kami juga akan memberikan masukan untuk pembelaan.
• Eep Saefulloh Fatah, tokoh sipil: Saya bersedia sepenuh hati untuk menjadi penjamin bagi Chandra dan Bibit.

• Erry Rijana Hardjapamekas, mantan wakil ketua KPK: Apa yang dilakukan Bibit dan Chandra sama dengan yang kami lakukan dulu. Penyidikan, termasuk penyadapan, juga kami lakukan. Jadi, jika mereka ditahan, saya juga minta ditahan.

• Teten Masduki, Sekjen TI: Penahanan itu menunjukkan polisi panik pascaberedarnya transkrip yang kian mempertegas kriminalisasi terhadap kedua unsur pimpinan KPK itu.

• Agam, anggota Komunitas Indonesia Cinta KPK (Cicak): Penahanan Bibit dan Chandra merupakan bukti penguasa tak lagi berpihak kepada pemberantasan korupsi. Jadi, KPK tak diperlukan lagi.

• Jenderal Bambang Hendarso Danuri, Kapolri: Pokoknya akan ada langkah konkret yang dilakukan Polri. Hari ini (Kamis) akan diumumkan Kepala Dinas Penerangan Polri dan Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri. Datang saja ke Mabes Polri.

• Djoko Suyanto, Menko Polhukam: Kita ikuti saja proses hukumnya seperti apa. (terkait rekaman) Seperti yang disampaikan Juru Bicara Kepresidenan, itu harus diselesaikan sesuai hukum. Kalau tak diikuti proses hukum, apa jadinya bangsa ini.

• Irjen Dikdik Mulyana, Wakabareskrim Polri: Setidak-tidaknya faktanya sekarang kami kesulitan sebab dihakimi dengan cerita dan tuduhan kriminalisasi. Tersangka bisa jumpa pers, itu indikasi dia bisa memengaruhi opini. Dari mana kami mengkriminalisasi KPK, mereka juga rekan kami. Kita bicara pelanggaran hukum. Hari ini yang jelas persyaratan itu terpenuhi, subyektif dan obyektif. Ancaman di atas lima tahun, tak ulangi perbuatan pidana, tak melarikan diri.

• Irjen Nanan Soekarna, Kadiv Humas Polri: Kami tak pernah membuat kriminalisasi dan kerdilkan KPK. Tolong tulis besar-besar supaya ada keseimbangan. Ini sebagai pernyataan resmi kepolisian. Yang kita sidik adalah orangnya pribadi, bukan institusi.

• Bambang Widjojanto, Anggota Tim Kuasa Hukum Bibit-Chandra: Setelah penahanan itu, sejumlah tokoh dan kalangan memberikan dukungan moral. Solidaritas itu akan mengerucut menjadi petisi.

• Satjipto Rahardjo, Sosiolog Hukum: Polri dan KPK adalah “Sekrup” antikorupsi di Indonesia. Karena itu, semua kekuatan antikorupsi harus berkonsolidasi agar koruptor tidak justru diuntungkan dengan kekisruhan yang terjadi antara Polri dan KPK.

• Irjen Dikdik Mulyana Arif, Wakabareskrim Polri: Kita menahan keduanya terhitung hari ini (29/10). Alasan penahanan sudah sesuai dengan persyaratan obyektif dan subyektif. Alasan obyektif, seseorang dapat ditahan jika ancaman hukumannya lebih dari lima tahun. Adapun alasan subyektif, keduanya dinilai telah membuat opini-opini. Kami kesulitan karena kami dihakimi dengan cerita-caerita dan opini-opini kriminalisasi KPK. Setiap saat tersangka bisa jumpa pers.

• Ahmad Rivai, anggota tim kuasa hukum Bibit-Chandra: Penahanan Bibit & Chandra terkesan dipaksakan.

• Denny Indrayana, Staf Khusus Kepresidenan Bidang Hukum: Kita hormati apa yang dilakukan MK, demikian juga dengan penahanan Bibit dan Chandra.

• Tumpak Hatorangan Panggabean, Plt Ketua KPK: Kami akan mengajukan permohonan kepada penyidik agar dilakukan penangguhan penahanan.

• Imam Prasodjo, Penggiat Demokrasi: Penahanan yang dilakukan kepolisian tersebut tidak beralasan.

• Febri Diansyah, Peneliti dari Indonesian Corruption Watch (ICW): Keputusan penahanan yang dilakukan Polri hanyalah bentuk dari arogansi kepolisian. Tindakan polisi ini menjadi indikasi atas kemungkinan tindakan hukum sewenangwenang yang bisa dilakukan kepolisian. Bisa saja ke depan,ini tidak hanya terjadi kepada pimpinan KPK, bisa juga institusi lain. Polisi Overreaktif.

• Djoko Suyanto, Menko Polhukam: Kalau teman-teman KPK ingin melakukan upaya hukum, silakan.KPK juga harus mengikuti proses hukum ini. Polri mengatakan (jika) itu sudah sesuai prosedur, ya lakukan dengan baik.

• Denny Indrayana, Staf Ahli Presiden Bidang Hukum: Menko Polhukam meminta informasi dan pendapat hukum terkait penahanan dua pimpinan KPK hari ini. Presiden sudah menerima informasi terkait kasus ini. Pertama tentang putusan sela Mahkamah Konstitusi, kedua penahanan Bibit dan Chandra. Mengenai putusan sela Mahkamah Konstitusi, Presiden menghormati putusan itu dan akan menunggu sampai adanya putusan final. Sementara mengenai penahanan Bibit dan Chandra, adalah kewenangan polisi. Presiden menghormati proses hukum itu.

• Irjen Pol Nanan Soekarna, Kepala Divisi Humas Mabes Polri: Penahanan terhadap Bibit dan Chandra harus dilihat dari perspektif hukum di mana keduanya diduga melakukan tindak pidana.Polri sangat ingin membesarkan KPK untuk pemberantasan korupsi.

• Hikmahanto Juwana, Dekan FH-UI: Masyarakat akan menilai janji Presiden memberantas korupsi tak ditepati.

Selasa, 06 Oktober 2009

Two Faces of Ace, the Smooth Criminal

Ia memperkenalkan dirinya sebagai Azis. Penampilan stylish dan berkelas yang dimilikinya bisa membuat orang berpikir si pemuda asal sebuah daerah di Sumatera ini termasuk golongan eksekutif muda atawa eksmud. Aku pun bisa tertipu seandainya pertemuan pertama dengannya tidak terjadi saat menumpang sebuah angkot dari arah Senen dan jika aku tidak menyimak sekilas tempat tongkrongan yang menjadi tujuannya: sudut sebuah terminal di mana sekelompok pemuda tanggung tengah bercengkerama.

Kala itu, sebuah ponsel jenis communicator diutak-atiknya sambil memangku tas laptop jinjing. Jarum jam arlojiku menunjukkan jam 2.30 dinihari. Untuk kesekian kalinya saya melirik pemuda itu. Penampilan dan tentengannya sungguh mengundang aksi kekerasan. Namun, tak ada gurat kecemasan di wajahnya akan ancaman kriminalitas Ibukota. Apakah ia orang baru di rimba Jakarta? Atau mungkin saja ia sudah terbiasa dengan situasi berisiko ini hingga ia merasa begitu nyaman dan aman? demikian aku membatin waktu itu. Ternyata dugaan kedualah yang benar. Ia sudah biasa pulang kerja di saat sebagian besar warga Jakarta telah terlelap.

Ace, begitu teman-teman menyebutnya, sehari-hari lebih sering berada di kawasan pusat perbelanjaan, terutama Atrium Senen dan sejumlah mal di wilayah Mangga Dua. Di situlah ia berkantor atau lebih tepatnya beroperasi. Tuntutan profesi, demikian frase normatif kalangan professional, mengharuskannya selalu tampil necis. Saban hari Ace harus menjalin hubungan kerjasama dengan orang-orang yang ia temui di pusat-pusat perbelanjaan yang menunjukkan sikap kooperatif.

Tentunya dia tidak asal memilih. Seperti staf marketing berpengalaman, ia telah menentukan target dan prioritas berdasarkan logika berpikir sederhana yang tak perlu dibentuk dengan menyelesaikan pendidikan hingga level S-1. Asupan pengalaman keseharian mengajarkannya satu-dua pelajaran berharga: pertama, penampilan dan peluang adalah dua hal yang kerapkali sinkron di Jakarta atau bahkan di jagad ini; kedua, manusia kerap mempermainkan atau dipermainkan perasaannya.

Berbekal penampilan, Ace memperhatikan dengan seksama setiap pengunjung. Lokasi monitoring-nya bisa di area parkir, sekitar ATM, hingga tempat makan kalangan berduit. Meskipun kadang ada begitu banyak pengunjung, menurutnya, sasarannya gampang terseleksi oleh matanya yang telah terlatih. Mereka adalah orang-orang berkantong tebal, yang memandang dompetnya dari sisi harganya dan bukan dari nilai isinya, yang melihat aspek fisik suatu barang tanpa mempertimbangkan aspek fungsionalitasnya. Targetnya adalah mereka yang menilai orang lain, termasuk ancaman kriminalitas, dari penampilan fisik. Mereka adalah orang-orang yang tak akan peduli saat dipepet rapat oleh orang yang berpakaian parlente. Mereka adalah orang-orang yang tidak akan menggubris, apalagi curiga, kala sedikit tersenggol oleh orang berpenampilan eksmud. Itulah sasarannya. Merekalah obyeknya, orang-orang yang bisa diajak bekerja sama dengan membiarkan dompet, tas tangan, dan tentengannya terlihat menarik di mata orang lain tanpa sikap awas bin waspada. Itulah kelengahan khas orang berpunya yang oleh Ace diartikan sebagai sikap kooperatif. Saat itulah sinkronisasi peluang dan penampilan diolahnya. Menenteng tas laptop sambil berjalan cepat dengan gaya khas kaum sibuk, ia bergerak membuntuti mangsanya. Saat posisi cukup rapat, kelihaian tangannya dimanfaatkan. Dan, gotcha, dompet pun telah beralih tempat. Selanjutnya, ia pun terus bergegas melangkah meninggalkan korban.

Azis alias Ace adalah pencopet. Ia pencopet yang smart. Pencopet kan manusia juga, bukan hanya dalam arti nilai rasa, tapi juga dalam arti daya nalar. Ia bisa memproses logika berpikir dari hasil cerapan indrawi, mengabstraksikan, dan menjadikannya suatu konsepsi, tanpa perlu belajar ilmu psikologi. Lebih-lebih, ia tidak perlu menyelesaikan program pascasarjana untuk menuangkan gagasannya sebagai suatu tesis. Ia telah mempunyai postulat personal yang sifatnya aplikatif. Postulat itulah yang menjadi panduan profesi bahkan hidupnya.

Kelicinan Ace tidak berakhir di situ. Menurutnya, ia tidak hanya lihai mencopet tapi juga pandai menggeletik relung hati seseorang. Itulah yang menjadikannya bukan pencopet biasa. Tidak seperti teman seprofesi lainnya, ia akan berupaya mengembalikan dompet beserta isinya kepada si empunya bila ada rujukan identitas dan alamat yang pasti. Namun bukan lakon pahlawan tanpa imbalan yang hendak diperankannya. Ia justru berupaya merebut kembali hati korban dengan menjadi pahlawan yang akan diberikan apresiasi tak berhingga secara material maupun immaterial.

Kedinamisan diri Ace dituangkannya dalam lakon kedua. Bak bunglon, ia muncul dengan tampilan baru yang kuyu dan tanpa asa saat menjabani kediaman korban. Ia tertawa membayangkan seribu alasan yang dipakai untuk membuat korban jatuh iba. Strateginya selalu sama, ada intro mengenai kisah hidup dan situasi saat itu yang membuat miris dan saat pengembalian barang ia selalu menjelaskan prinsipnya bahwa sesulit apa pun situasinya, menolong sesama tak bernilai bila menuntut imbalan. Dibiarkannya manusia di hadapannya berupaya menyatukan kata hati dan otaknya sejenak. Hasilnya, sebagian besar dari mereka akan memberikan imbalan yang lebih besar, bahkan menjanjikan bantuan lebih lanjut.....ha...ha...ha..., Azis pun tergelak, Mungkin ia hendak menertawakan para korbannya. Tapi, bisa juga ia perasaannya sedang diliputi oleh rasa puas yang membuncah karena kepiawaiannya berlakon.


**************************

Kamis, 20 Agustus 2009

Misi Cendana melalui Tommy: Invasi Golkar

Pernyataan Tommy Soeharto untuk masuk dalam bursa pencalonan Ketua Umum Partai Golkar dan penetapan presiden terpilih 2009-2014 oleh KPU menyita halaman muka hampir seluruh media cetak nasional. Namun, kemunculan kembali “Pangeran Cendana” di panggung politik jelas menjadi sorotan paling menarik. Apakah langkah Tommy menandai kebangkitan keluarga Cendana di kancah perpolitikan Tanah Air? Ataukah ini hanya sekadar manuver politik sebagai positioning dan test case keluarga Soeharto menghadapi 2014. Yang jelas, citra Partai Beringin dipertaruhkan. Publik akan menilai apakah mesin politik Orde Baru ini telah bertransformasi mengikuti arus reformasi ataukah malah ingin menghidupkan kembali kekuatan Orba.

Media ekonomi masih tetap mengaitkan agenda ekonomi nasional dengan perkembangan politik. Salah satu yang kembali menjadi headline adalah isu komposisi kabinet mendatang. Media Ekonomi terlihat intens mengangkat tema ini dengan mengangkat wacana umum memimalisir potensi ‘bagi-bagi jatah’ kursi kabinet ke partai pendukung koalisi pemerintahan dan masuknya kalangan politisi ke jabatan-jabatan strategis di kabinet. Sejumlah nama dari kalangan profesional dan teknokrat terus dikedepankan dan digadang-gadangkan akan membawa kesuksesan jika menduduki salah satu pos kementerian.

Info supranatural tv indonesia & usulan buat mas noordin m top

Pembicaraan tentang noordin m top masih hangat-hangat renyah: mengundang atensi, mimik serius sekaligus tawa renyah. Spekulasi & isu soal penelusuran jejak serta sulitnya menangkap si gembong teroris ini sering mengundang komentar asbun dari teman-teman. Tak heran bila kisah noordin em berrrr pun menyebar – entah dari mana asalnya – dari sms, jejaring social, postingan di blog-blog, hingga situs berita online dan karikatur koran nasional.

Yang tak kalah serunya, bagi para peminat dunia indera keenam alias supranatural, adalah soal kemungkinan nmt punya ngelmu menghilang (saya lupa istilah dunia persialatannya ala bastian tito..hehehe…) atau berganti rupa..hiks. Konyol memang untuk dibayangkan orang-orang kontemporer yang tidak hidup di dunia sinto gendheng.

Tapi, ya, sekonyol-konyolnya omongan asbun bisa mendatangkan ide kreatif juga untukku. Seandainya nmt ternyata tidak memiliki skill supranatural, seandainya nmt suka menonton tv Indonesia yg dipenuhi iklan layanan supranatural, serta seandainya dia membaca tulisan ini dan mau menerima usulanku…hehehe… berikut ini usulan menarik untuknya:
 Ketik REG spasi SUHU...Suhu Yo, tanyakan ke Suhu Yo, tempat persmbunyianku yg aman di mana ya?
 Ketik REG spasi JENENG...tanyakan ke Ki Joko Bhodo, nama samaran yg tepat buatku, apa ya?
 Ketik REG spasi Primbon…tanyakan ke Mas…(siapa namanya ya?), siapa calon istri saya berikutnya ya?
 Ketik REG spasi MAMA...tanyakan ke Mama Loren, Ma2, ujung nasibku, gimana ya?


Kalau mas nmt ternyata ngebet n ngincar salah dua artis Indonesia yang semok,,hiks, gampang mas, tinggal ketik REG spasi Tato…biar nama artisnya bisa jadi dijadikan ‘prasasti kenangan terindah’ di bagian tubuh yang kamu mau…hahaha..

Nah, ini bisa dijadikan ujian sekaligus rujukan kehandalan orang-orang itu. Kalau mas nmt tetap bisa lolos dan hidup tenang n senang, berarti paranormal2 itu memang punya mantra handal n mantap. Tapi ada risikonya buat ma2 loren cs. Kalian bisa diciduk karena bekerja sama dengan teroris, ikut membantu/memfasilitasi pelarian teroris. Tenang aja, bisnis “Ketik REG” kalian masih bisa jalan...hanya saja, ya, dari balik jeruji besi. Dan, Mbah Surip pun bisa tertawa lepas dari ‘alamnya’ hahaha…

Jumat, 14 Agustus 2009

Para Pencari Tuhan

Yang menatap realitas
tanpa tenggelam
Yang menerabas fakta
tanpa keegoan
Yang menyibak alam
tanpa merusak
Yang mempertanyakan metafisik
tanpa kelelahan
Memaknai ada-nya dalam tanya
Meretas asa dalam nyata
Menuju Kesempurnaan