Peningkatan artikel terkait kabinet dan koalisi pemerintahan semakin terlihat pada media cetak nasional. Berbagai tulisan mulai dari tajuk redaksi, opini, reportase, hingga profil tokoh mengarah pada wacana yang satu ini. Jebakan kekuasaan dan parpol yang haus kekuasaan terbaca dari pemberitaan hari ini. Ketegasan SBY menyatakan kerja sama dengan PDI-P hanya terbatas di level MPR ternyata langsung memantik reaksi berbagai pihak, terutama PDI-P.
Saat kalangan awam menafsirkan statement itu sebagai sinyal tidak tergabung PDI-P dalam koalisi pemerintah, yang ditandai dengan jatah kursi menteri, beberapa petinggi PDI-P langsung bersuara hari ini di berbagai media. Intinya, kubu banteng ingin tetap terbuka terhadap tawaran kerja sama pada level eksekutif pula.
Sikap pragmatis sejumlah petinggi PDI-P tidak serta merta disambut positif oleh kubu Demokrat. Mereka tetap menginginkan pernyataan terbuka Mega sebagai ketua partai seandainya ingin ikut berpartisipasi menikmati kue pemerintahan. SBY dan PD rupanya belajar dari situasi periode sebelumnya. Untuk memadukan koor pemerintahan itu pula, SBY sejak awal meminta komitmen petinggi parpol pendukungnya dituangkan dalam kontrak yang diteken secara resmi dan diketahui khalayak. Enam petinggi parpol telah resmi menandatanganinya kemarin, Kamis (15/10).
Di sisi lain, Partai Gerindra pun belum berani menegaskan posisi pasti mereka sebagai partai oposisi dan memberi kesan tetap terbuka terhadap tawaran SBY. Alhasil, semua pihak, terutama publik harus tetap menanti hingga hari pengumuman nama para menteri untuk mengetahui parpol mana yang menjadi oposisi pemerintah.
Protagonis (central opinion leader) pada hari ini jelas SBY, sang presiden terpilih. Sedikit sentilan ketegasannya kemarin telah berhasil menguak watak oportunis dan haus kekuasaan yang dimiliki parpol-parpol di Indonesia beserta para petinggi masing-masing. Semuanya menyiratkan masih terbuka dan membuka diri untuk mendapat jatah kekuasaan.
Ternyata oposisi harus dipandang dari perspektif sebagai korban, obyek, bukan subyek, dalam kancah perpolitikan nasional. Itulah sebabnya tak banyak politisi yang hendak menjalani peran itu. Itulah alasannya mengapa dibutuhkan kerelaan yang besar untuk menjadi pelakonnya.
Jumat, 16 Oktober 2009
Rabu, 14 Oktober 2009
Menanti Panggilan "Darurat" Cikeas
Dua nomor telepon yang sedang dinantinantikan para petinggi partai politik dan pemerintahan serta tokoh dari kalangan professional dan akademisi adalah nomor telepon dari dua anggota cabinet, yakni Mensesneg Hatta Rajasa dan Menseskab Sudi Silalahi. Kepentingan panggilan telepon itu tidak lepas dari wacana terhangat di Indonesia saat ini, yaktu pemilihan anggota Kabinet SBY dan Boediono. Hatta dan Sudi adalah dua tangan kanan presiden dalam melaksanakan pemerintah. Keduanya pun menjadi orang yang diajak SBY, selain Wapresnya Boediono, untuk menggodok para calon pembantunya. Kedua orang itulah yang akan dimintai sby meghunungi orang-orang yang terpilih.
Nasib baik:
Berbagai ikhtiar mulai dari pendekatan pribadi lobi-lobi dgn berbagai kreasi telah diupayakan oleh orang-orang yang bernafsu merebut posisi tersebut. Yang pasti ada beberapa hal yang bisa dianggap sebagai bekal.
Pertama, tentu saja dari sisi kapabilitas dan kapasitas. Kemampuan dalam bidang keahlian tertentu yang sudah diakui secara nasional menjadi bekal utama. Selain itu, pengalaman kerja, track record dan berbagai bentuk kapasitas pribadi yang mendukung seperti kemampuan manajerial, wawasan yang luas, etc, menjadi dasar pertimbang.
Kedua, jasa khusus. Jasa ini tentu saja pertama-tama bagi SBY. Selain itu, bisa pula itu berupa jasa bagi pihak-pihak yang dapat memberikan rekomendasi khusus kepada SBY, terutama ketiga tokoh di atas atau inner circle SBY. Tidak tertutup kemungkinan, orang akan menggunakan jalur tak resmi, misalnya, pendekatan terhadap Ibu Ani, istri SBY, atau bahkan ibu mertua presiden, sebagaiman diakui SBY telah dilakukan oleh orang tertentu.
Ketiga, afiliasi politik-kepartaian. Orang yang terpilih pastinya orang yang mendukung SBY dan partainya Demokrat, jika bukan orang dalam Demokrat sendiri. Mitra partai Demokrat yang menyokong kesuksesan SBY-Boediono dalam pilpres 2009 telah dijanjikan porsi di pemerintahan melalui konsensus formal maupun informal. Maka sejumlah orang dari kelompok ini dipastikan akan menduduki jabatan menteri. Jika, bukan dari kalangan internal partai maka si peminat mestinya merupakan simpatisan partai, punya kedekatan khusus, afiliasi, atau jaringan untuk menembus internal partai. So, ia dapat direkomendasikan.
Keempat, good fortune alias nasib baik. Jika salah satu dari unsur di atas telah dipenuhi, mereka yang berharap menduduki kursi menteri masih harus berharap pada nasib baik. Sama seperti terpilihnya Boediono sebagai deputinya yang mengejutkan banyak pihak, SBY diharapkan akan menghadirkan kejutaan lagi pada pilihannya kali ini. Mungkin karena kesadaran ini pula sejumlah calon yang oportunis sampai harus melakukan pendekatan supranatural. Minimal untuk membuat CV-nya memiliki daya tarik lebih saat dibaca oleh SBY dan tim penggodok. Dan...simsalabim...namanya terpilih. Birokrat senior di departemen atau lembaga tertentu serta para pakar dan praktisi pada bidang khusus layak mengedepankan nasib baik ini seandainya mereka memiliki nilai minus dari sisi jasa dan afiliasi politik.
Siapa yang akan terpilih? Harapan masyarakat awam tentunya orang-orang yang kapabel dalam bidangnya. Namun, yang namanya politik selalu sarat kepentingan, sarat give n take, intrik dan konspirasi, serta merangkum wilayah abu-abu yang bisa menghadirkan kejutan. So, silakan menanti hari pengumuman anggota kabinet SBY-Boediono pada Sabtu (17/10) nanti.
Nasib baik:
Berbagai ikhtiar mulai dari pendekatan pribadi lobi-lobi dgn berbagai kreasi telah diupayakan oleh orang-orang yang bernafsu merebut posisi tersebut. Yang pasti ada beberapa hal yang bisa dianggap sebagai bekal.
Pertama, tentu saja dari sisi kapabilitas dan kapasitas. Kemampuan dalam bidang keahlian tertentu yang sudah diakui secara nasional menjadi bekal utama. Selain itu, pengalaman kerja, track record dan berbagai bentuk kapasitas pribadi yang mendukung seperti kemampuan manajerial, wawasan yang luas, etc, menjadi dasar pertimbang.
Kedua, jasa khusus. Jasa ini tentu saja pertama-tama bagi SBY. Selain itu, bisa pula itu berupa jasa bagi pihak-pihak yang dapat memberikan rekomendasi khusus kepada SBY, terutama ketiga tokoh di atas atau inner circle SBY. Tidak tertutup kemungkinan, orang akan menggunakan jalur tak resmi, misalnya, pendekatan terhadap Ibu Ani, istri SBY, atau bahkan ibu mertua presiden, sebagaiman diakui SBY telah dilakukan oleh orang tertentu.
Ketiga, afiliasi politik-kepartaian. Orang yang terpilih pastinya orang yang mendukung SBY dan partainya Demokrat, jika bukan orang dalam Demokrat sendiri. Mitra partai Demokrat yang menyokong kesuksesan SBY-Boediono dalam pilpres 2009 telah dijanjikan porsi di pemerintahan melalui konsensus formal maupun informal. Maka sejumlah orang dari kelompok ini dipastikan akan menduduki jabatan menteri. Jika, bukan dari kalangan internal partai maka si peminat mestinya merupakan simpatisan partai, punya kedekatan khusus, afiliasi, atau jaringan untuk menembus internal partai. So, ia dapat direkomendasikan.
Keempat, good fortune alias nasib baik. Jika salah satu dari unsur di atas telah dipenuhi, mereka yang berharap menduduki kursi menteri masih harus berharap pada nasib baik. Sama seperti terpilihnya Boediono sebagai deputinya yang mengejutkan banyak pihak, SBY diharapkan akan menghadirkan kejutaan lagi pada pilihannya kali ini. Mungkin karena kesadaran ini pula sejumlah calon yang oportunis sampai harus melakukan pendekatan supranatural. Minimal untuk membuat CV-nya memiliki daya tarik lebih saat dibaca oleh SBY dan tim penggodok. Dan...simsalabim...namanya terpilih. Birokrat senior di departemen atau lembaga tertentu serta para pakar dan praktisi pada bidang khusus layak mengedepankan nasib baik ini seandainya mereka memiliki nilai minus dari sisi jasa dan afiliasi politik.
Siapa yang akan terpilih? Harapan masyarakat awam tentunya orang-orang yang kapabel dalam bidangnya. Namun, yang namanya politik selalu sarat kepentingan, sarat give n take, intrik dan konspirasi, serta merangkum wilayah abu-abu yang bisa menghadirkan kejutan. So, silakan menanti hari pengumuman anggota kabinet SBY-Boediono pada Sabtu (17/10) nanti.
Komposisi Kabinet SBY Boediono & Pemangkasan Royalti Batu Bara
Akankah Gerindra Menapaki Jejak PDIP & Golkar?
Wacana mengenai komposisi kabinet SBY-Boediono masih tetap dominan. Kalangan petinggi Partai Demokrat menyatakan nama-nama yang telah lulus seleksi awal telah dikantongi SBY. Sekarang adalah saat untuk menghubungi mereka yang telah terpilih untuk kemudian beraudiensi dengan presiden terpilih dan selanjutnya menjalani tes kesehatan.
Sebagian besar media menyajikan list kandidat menteri. Sejumlah nama yang berasal dari kalangan parpol tampaknya akan menjadi kenyataan. Yang lebih ditunggu publik dan media adalah tokoh PDIP & Golkar yang ikut masuk tim pemerintah. Kejutan lebih besar akan terjadi bila Prabowo Subianto atau pun salah seorang tokoh Gerindra ikut mengisi salah satu kursi menteri. Jika itu terjadi, lengkaplah kekuatan politik yang dibangun oleh SBY pada periode kedua pemerintahannya.
Namun, para analis politik menggambarkan hal ini sebagai awal kekisruhan pemerintahan pada dua tahun terakhir rezim SBY-Boediono. Pada periode itu, semua partai besar sudah mulai menampakkan geliat untuk menjadi suksesor SBY pada periode 2014-2019. Tarik-menarik kepentingan partai politik pada internal pemerintahan itulah yang disinyalir membahayakan kesolidan rezim SBY-Boediono. Karena itu, pengumuman susunan kabinet pada hari Sabtu nanti patut dinantikan.
Adakah yang diuntungkan dari pemangkasan royalti batu bara?
Rumor baru dari bidang ekonomi adalah rencana pemangkasan royalti (DHPB) untuk produksi batu bara berkalori rendah. Hal ini akan sangat menguntungkan pihak Adaro yang komisaris utamanya adalah Djoko Suyanto, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional SBY-Boediono. Ditambah dengan status perusahaan ini sebagai donatur penting kampanye SBY pada pilpres lalu, kalangan pengamat menyitir kebijakan ini sarat akan upaya balas jasa.
Wacana mengenai komposisi kabinet SBY-Boediono masih tetap dominan. Kalangan petinggi Partai Demokrat menyatakan nama-nama yang telah lulus seleksi awal telah dikantongi SBY. Sekarang adalah saat untuk menghubungi mereka yang telah terpilih untuk kemudian beraudiensi dengan presiden terpilih dan selanjutnya menjalani tes kesehatan.
Sebagian besar media menyajikan list kandidat menteri. Sejumlah nama yang berasal dari kalangan parpol tampaknya akan menjadi kenyataan. Yang lebih ditunggu publik dan media adalah tokoh PDIP & Golkar yang ikut masuk tim pemerintah. Kejutan lebih besar akan terjadi bila Prabowo Subianto atau pun salah seorang tokoh Gerindra ikut mengisi salah satu kursi menteri. Jika itu terjadi, lengkaplah kekuatan politik yang dibangun oleh SBY pada periode kedua pemerintahannya.
Namun, para analis politik menggambarkan hal ini sebagai awal kekisruhan pemerintahan pada dua tahun terakhir rezim SBY-Boediono. Pada periode itu, semua partai besar sudah mulai menampakkan geliat untuk menjadi suksesor SBY pada periode 2014-2019. Tarik-menarik kepentingan partai politik pada internal pemerintahan itulah yang disinyalir membahayakan kesolidan rezim SBY-Boediono. Karena itu, pengumuman susunan kabinet pada hari Sabtu nanti patut dinantikan.
Adakah yang diuntungkan dari pemangkasan royalti batu bara?
Rumor baru dari bidang ekonomi adalah rencana pemangkasan royalti (DHPB) untuk produksi batu bara berkalori rendah. Hal ini akan sangat menguntungkan pihak Adaro yang komisaris utamanya adalah Djoko Suyanto, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional SBY-Boediono. Ditambah dengan status perusahaan ini sebagai donatur penting kampanye SBY pada pilpres lalu, kalangan pengamat menyitir kebijakan ini sarat akan upaya balas jasa.
Selasa, 06 Oktober 2009
Two Faces of Ace, the Smooth Criminal
Ia memperkenalkan dirinya sebagai Azis. Penampilan stylish dan berkelas yang dimilikinya bisa membuat orang berpikir si pemuda asal sebuah daerah di Sumatera ini termasuk golongan eksekutif muda atawa eksmud. Aku pun bisa tertipu seandainya pertemuan pertama dengannya tidak terjadi saat menumpang sebuah angkot dari arah Senen dan jika aku tidak menyimak sekilas tempat tongkrongan yang menjadi tujuannya: sudut sebuah terminal di mana sekelompok pemuda tanggung tengah bercengkerama.
Kala itu, sebuah ponsel jenis communicator diutak-atiknya sambil memangku tas laptop jinjing. Jarum jam arlojiku menunjukkan jam 2.30 dinihari. Untuk kesekian kalinya saya melirik pemuda itu. Penampilan dan tentengannya sungguh mengundang aksi kekerasan. Namun, tak ada gurat kecemasan di wajahnya akan ancaman kriminalitas Ibukota. Apakah ia orang baru di rimba Jakarta? Atau mungkin saja ia sudah terbiasa dengan situasi berisiko ini hingga ia merasa begitu nyaman dan aman? demikian aku membatin waktu itu. Ternyata dugaan kedualah yang benar. Ia sudah biasa pulang kerja di saat sebagian besar warga Jakarta telah terlelap.
Ace, begitu teman-teman menyebutnya, sehari-hari lebih sering berada di kawasan pusat perbelanjaan, terutama Atrium Senen dan sejumlah mal di wilayah Mangga Dua. Di situlah ia berkantor atau lebih tepatnya beroperasi. Tuntutan profesi, demikian frase normatif kalangan professional, mengharuskannya selalu tampil necis. Saban hari Ace harus menjalin hubungan kerjasama dengan orang-orang yang ia temui di pusat-pusat perbelanjaan yang menunjukkan sikap kooperatif.
Tentunya dia tidak asal memilih. Seperti staf marketing berpengalaman, ia telah menentukan target dan prioritas berdasarkan logika berpikir sederhana yang tak perlu dibentuk dengan menyelesaikan pendidikan hingga level S-1. Asupan pengalaman keseharian mengajarkannya satu-dua pelajaran berharga: pertama, penampilan dan peluang adalah dua hal yang kerapkali sinkron di Jakarta atau bahkan di jagad ini; kedua, manusia kerap mempermainkan atau dipermainkan perasaannya.
Berbekal penampilan, Ace memperhatikan dengan seksama setiap pengunjung. Lokasi monitoring-nya bisa di area parkir, sekitar ATM, hingga tempat makan kalangan berduit. Meskipun kadang ada begitu banyak pengunjung, menurutnya, sasarannya gampang terseleksi oleh matanya yang telah terlatih. Mereka adalah orang-orang berkantong tebal, yang memandang dompetnya dari sisi harganya dan bukan dari nilai isinya, yang melihat aspek fisik suatu barang tanpa mempertimbangkan aspek fungsionalitasnya. Targetnya adalah mereka yang menilai orang lain, termasuk ancaman kriminalitas, dari penampilan fisik. Mereka adalah orang-orang yang tak akan peduli saat dipepet rapat oleh orang yang berpakaian parlente. Mereka adalah orang-orang yang tidak akan menggubris, apalagi curiga, kala sedikit tersenggol oleh orang berpenampilan eksmud. Itulah sasarannya. Merekalah obyeknya, orang-orang yang bisa diajak bekerja sama dengan membiarkan dompet, tas tangan, dan tentengannya terlihat menarik di mata orang lain tanpa sikap awas bin waspada. Itulah kelengahan khas orang berpunya yang oleh Ace diartikan sebagai sikap kooperatif. Saat itulah sinkronisasi peluang dan penampilan diolahnya. Menenteng tas laptop sambil berjalan cepat dengan gaya khas kaum sibuk, ia bergerak membuntuti mangsanya. Saat posisi cukup rapat, kelihaian tangannya dimanfaatkan. Dan, gotcha, dompet pun telah beralih tempat. Selanjutnya, ia pun terus bergegas melangkah meninggalkan korban.
Azis alias Ace adalah pencopet. Ia pencopet yang smart. Pencopet kan manusia juga, bukan hanya dalam arti nilai rasa, tapi juga dalam arti daya nalar. Ia bisa memproses logika berpikir dari hasil cerapan indrawi, mengabstraksikan, dan menjadikannya suatu konsepsi, tanpa perlu belajar ilmu psikologi. Lebih-lebih, ia tidak perlu menyelesaikan program pascasarjana untuk menuangkan gagasannya sebagai suatu tesis. Ia telah mempunyai postulat personal yang sifatnya aplikatif. Postulat itulah yang menjadi panduan profesi bahkan hidupnya.
Kelicinan Ace tidak berakhir di situ. Menurutnya, ia tidak hanya lihai mencopet tapi juga pandai menggeletik relung hati seseorang. Itulah yang menjadikannya bukan pencopet biasa. Tidak seperti teman seprofesi lainnya, ia akan berupaya mengembalikan dompet beserta isinya kepada si empunya bila ada rujukan identitas dan alamat yang pasti. Namun bukan lakon pahlawan tanpa imbalan yang hendak diperankannya. Ia justru berupaya merebut kembali hati korban dengan menjadi pahlawan yang akan diberikan apresiasi tak berhingga secara material maupun immaterial.
Kedinamisan diri Ace dituangkannya dalam lakon kedua. Bak bunglon, ia muncul dengan tampilan baru yang kuyu dan tanpa asa saat menjabani kediaman korban. Ia tertawa membayangkan seribu alasan yang dipakai untuk membuat korban jatuh iba. Strateginya selalu sama, ada intro mengenai kisah hidup dan situasi saat itu yang membuat miris dan saat pengembalian barang ia selalu menjelaskan prinsipnya bahwa sesulit apa pun situasinya, menolong sesama tak bernilai bila menuntut imbalan. Dibiarkannya manusia di hadapannya berupaya menyatukan kata hati dan otaknya sejenak. Hasilnya, sebagian besar dari mereka akan memberikan imbalan yang lebih besar, bahkan menjanjikan bantuan lebih lanjut.....ha...ha...ha..., Azis pun tergelak, Mungkin ia hendak menertawakan para korbannya. Tapi, bisa juga ia perasaannya sedang diliputi oleh rasa puas yang membuncah karena kepiawaiannya berlakon.
**************************
Kala itu, sebuah ponsel jenis communicator diutak-atiknya sambil memangku tas laptop jinjing. Jarum jam arlojiku menunjukkan jam 2.30 dinihari. Untuk kesekian kalinya saya melirik pemuda itu. Penampilan dan tentengannya sungguh mengundang aksi kekerasan. Namun, tak ada gurat kecemasan di wajahnya akan ancaman kriminalitas Ibukota. Apakah ia orang baru di rimba Jakarta? Atau mungkin saja ia sudah terbiasa dengan situasi berisiko ini hingga ia merasa begitu nyaman dan aman? demikian aku membatin waktu itu. Ternyata dugaan kedualah yang benar. Ia sudah biasa pulang kerja di saat sebagian besar warga Jakarta telah terlelap.
Ace, begitu teman-teman menyebutnya, sehari-hari lebih sering berada di kawasan pusat perbelanjaan, terutama Atrium Senen dan sejumlah mal di wilayah Mangga Dua. Di situlah ia berkantor atau lebih tepatnya beroperasi. Tuntutan profesi, demikian frase normatif kalangan professional, mengharuskannya selalu tampil necis. Saban hari Ace harus menjalin hubungan kerjasama dengan orang-orang yang ia temui di pusat-pusat perbelanjaan yang menunjukkan sikap kooperatif.
Tentunya dia tidak asal memilih. Seperti staf marketing berpengalaman, ia telah menentukan target dan prioritas berdasarkan logika berpikir sederhana yang tak perlu dibentuk dengan menyelesaikan pendidikan hingga level S-1. Asupan pengalaman keseharian mengajarkannya satu-dua pelajaran berharga: pertama, penampilan dan peluang adalah dua hal yang kerapkali sinkron di Jakarta atau bahkan di jagad ini; kedua, manusia kerap mempermainkan atau dipermainkan perasaannya.
Berbekal penampilan, Ace memperhatikan dengan seksama setiap pengunjung. Lokasi monitoring-nya bisa di area parkir, sekitar ATM, hingga tempat makan kalangan berduit. Meskipun kadang ada begitu banyak pengunjung, menurutnya, sasarannya gampang terseleksi oleh matanya yang telah terlatih. Mereka adalah orang-orang berkantong tebal, yang memandang dompetnya dari sisi harganya dan bukan dari nilai isinya, yang melihat aspek fisik suatu barang tanpa mempertimbangkan aspek fungsionalitasnya. Targetnya adalah mereka yang menilai orang lain, termasuk ancaman kriminalitas, dari penampilan fisik. Mereka adalah orang-orang yang tak akan peduli saat dipepet rapat oleh orang yang berpakaian parlente. Mereka adalah orang-orang yang tidak akan menggubris, apalagi curiga, kala sedikit tersenggol oleh orang berpenampilan eksmud. Itulah sasarannya. Merekalah obyeknya, orang-orang yang bisa diajak bekerja sama dengan membiarkan dompet, tas tangan, dan tentengannya terlihat menarik di mata orang lain tanpa sikap awas bin waspada. Itulah kelengahan khas orang berpunya yang oleh Ace diartikan sebagai sikap kooperatif. Saat itulah sinkronisasi peluang dan penampilan diolahnya. Menenteng tas laptop sambil berjalan cepat dengan gaya khas kaum sibuk, ia bergerak membuntuti mangsanya. Saat posisi cukup rapat, kelihaian tangannya dimanfaatkan. Dan, gotcha, dompet pun telah beralih tempat. Selanjutnya, ia pun terus bergegas melangkah meninggalkan korban.
Azis alias Ace adalah pencopet. Ia pencopet yang smart. Pencopet kan manusia juga, bukan hanya dalam arti nilai rasa, tapi juga dalam arti daya nalar. Ia bisa memproses logika berpikir dari hasil cerapan indrawi, mengabstraksikan, dan menjadikannya suatu konsepsi, tanpa perlu belajar ilmu psikologi. Lebih-lebih, ia tidak perlu menyelesaikan program pascasarjana untuk menuangkan gagasannya sebagai suatu tesis. Ia telah mempunyai postulat personal yang sifatnya aplikatif. Postulat itulah yang menjadi panduan profesi bahkan hidupnya.
Kelicinan Ace tidak berakhir di situ. Menurutnya, ia tidak hanya lihai mencopet tapi juga pandai menggeletik relung hati seseorang. Itulah yang menjadikannya bukan pencopet biasa. Tidak seperti teman seprofesi lainnya, ia akan berupaya mengembalikan dompet beserta isinya kepada si empunya bila ada rujukan identitas dan alamat yang pasti. Namun bukan lakon pahlawan tanpa imbalan yang hendak diperankannya. Ia justru berupaya merebut kembali hati korban dengan menjadi pahlawan yang akan diberikan apresiasi tak berhingga secara material maupun immaterial.
Kedinamisan diri Ace dituangkannya dalam lakon kedua. Bak bunglon, ia muncul dengan tampilan baru yang kuyu dan tanpa asa saat menjabani kediaman korban. Ia tertawa membayangkan seribu alasan yang dipakai untuk membuat korban jatuh iba. Strateginya selalu sama, ada intro mengenai kisah hidup dan situasi saat itu yang membuat miris dan saat pengembalian barang ia selalu menjelaskan prinsipnya bahwa sesulit apa pun situasinya, menolong sesama tak bernilai bila menuntut imbalan. Dibiarkannya manusia di hadapannya berupaya menyatukan kata hati dan otaknya sejenak. Hasilnya, sebagian besar dari mereka akan memberikan imbalan yang lebih besar, bahkan menjanjikan bantuan lebih lanjut.....ha...ha...ha..., Azis pun tergelak, Mungkin ia hendak menertawakan para korbannya. Tapi, bisa juga ia perasaannya sedang diliputi oleh rasa puas yang membuncah karena kepiawaiannya berlakon.
**************************
Senin, 05 Oktober 2009
Gempa Sumatera Barat: Penguburan Massal, Potensi Gempa Besar Disertai Tsunami
Pemberitaan seputar Gempa Sumatera Barat masih menjadi pilihan sebagian besar media cetak. Proses tanggap darurat, kendala, beserta bantuan dan insentif mengisi sisi liputan. Bantuan yang mengalir cepat dari berbagai pihak belum diimbangi kemampuan distribusi yang efektif dan efisien. Penyaluran bantuan juga belum mempertimbangkan secara bijak skala prioritas kebutuhan korban bencana.
Di sisi lain, menumpuknya tenaga ahli dan sukarelawan dari dalam dan luar negeri belum juga mampu meningkatkan akselerasi proses evakuasi. Kendala beratnya medan dan kerusakan bangunan menjadi handicap yang tak mudah untuk diatasi. Alhasil, penguburan massal menjadi salah satu opsi demi mencegah kemungkinan merebaknya penyakit akibat jenazah yang membusuk.
Sorotan juga masih diarahkan pada dua berita yang sudah diulas pada hari-hari sebelumnya, yakni kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa berikutnya, yang diprediksikan berskala lebih besar, serta penanganan terpadu program restrukturisasi yang dirancang pemerintah.
Tekanan akibat rangkaian gempa yang telah terjadi di wilayah itu dikhawatirkan akan memicu lepasnya energi yang lebih besar yang selama ini terkunci di segmen itu (Koran Tempo). Penelitian lebih detil dan koordinasi dengan pemerintah diperlukan demi memastikan keselamatan masyarakat di kawasan tersebut. Sementara itu, dampak gempa terhadap perekonomian nasional menjadi perhatian utama kementerian perekonomian. Lokasi gempa merupakan sentra produksi minyak sawit mentah dan tempat pusat industri batubara, semen, dll. Gangguan terhadap proses produksi di wilayah tersebut dikhawatirkan akan berimbas secara nasional. Pemerintah juga memberikan insentif pajak bagi perusahaan dan perseorangan yang memberikan bantuan gempa Sumbar. Insentif itu berupa pengurangan nilai pendapatan bruto.
Di sisi lain, menumpuknya tenaga ahli dan sukarelawan dari dalam dan luar negeri belum juga mampu meningkatkan akselerasi proses evakuasi. Kendala beratnya medan dan kerusakan bangunan menjadi handicap yang tak mudah untuk diatasi. Alhasil, penguburan massal menjadi salah satu opsi demi mencegah kemungkinan merebaknya penyakit akibat jenazah yang membusuk.
Sorotan juga masih diarahkan pada dua berita yang sudah diulas pada hari-hari sebelumnya, yakni kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa berikutnya, yang diprediksikan berskala lebih besar, serta penanganan terpadu program restrukturisasi yang dirancang pemerintah.
Tekanan akibat rangkaian gempa yang telah terjadi di wilayah itu dikhawatirkan akan memicu lepasnya energi yang lebih besar yang selama ini terkunci di segmen itu (Koran Tempo). Penelitian lebih detil dan koordinasi dengan pemerintah diperlukan demi memastikan keselamatan masyarakat di kawasan tersebut. Sementara itu, dampak gempa terhadap perekonomian nasional menjadi perhatian utama kementerian perekonomian. Lokasi gempa merupakan sentra produksi minyak sawit mentah dan tempat pusat industri batubara, semen, dll. Gangguan terhadap proses produksi di wilayah tersebut dikhawatirkan akan berimbas secara nasional. Pemerintah juga memberikan insentif pajak bagi perusahaan dan perseorangan yang memberikan bantuan gempa Sumbar. Insentif itu berupa pengurangan nilai pendapatan bruto.
Langganan:
Postingan (Atom)