Senin, 22 November 2010

POTENSI PROFIT DI BALIK PERUBAHAN CUACA


Perubahan iklim sebagai dampak pemanasan global memaksa semua orang, mulai para petani hingga para konglomerat beradaptasi kembali, mengubah sejumlah pola hidup dan kebiasaan yang sebelumnya terlihat stabil bin ajeg. Dua musim, hujan dan panas, dengan perbedaan yang jelas dan selama berabad-abad menjadi ciri negara katulistiwa kini berubah total. Salah satu buktinya, Jakarta diguyur hujan sepanjang tahun.


Risiko perubahan cuaca telah berbias dalam wujud perubahan pola tindakan, lifestyle, aktivitas perekonomian. Ketidakpastian cuaca di atas memaksa sejumlah pengendara sepeda motor beralih ke mobil pribadi untuk menghindari hujan sebelum dan setelah ke kantor. Dampak lanjutannya jelas, adanya peningkatan angka penjualan mobil – terutama mobil second- kemacetan semakin mengular karena jumlah kendaraan roda empat yang meningkat. Ada juga pengendara yang beralih menjadi penumpang busway. Dengan jumlah armada yang tetap terbatas, ditambah porsi armada untuk setiap jalur yang sulit diprediksi serta masalah klasik soal jadwal, peningkatan jumlah penumpang tersebut jelas berpengaruh besar. Antrean penumpang di sejumlah halte mengular; jadwal kedatangan bis semakin tak tentu karena adanya pengalihan ke jalur-jalur padat; hingga kenyamanan dalam bis yang benar-benar hilang.

Sisi lain yang terlihat jelas menjadi imbas sangat mudah dicerna jika kita cukup awas. Sejumlah anak sekolah sudah stand-by di pusat perbelanjaan dan perkantoran di sore hari dengan payung di tangan. Hasil pekerjaan sambilan ini adalah meningkatnya uang jajan anak-anak. Ke mana rezeki nomplok mereka akan disalurkan? Ada efek lanjutan dari fenomena ini tentunya. Tajamnya daya penciuman orang-orang Jakarta segera mengendus peluang untuk mengeruk keuntungan besar dari kebiasaan baru anak-anak. Buah ‘hujan sore-sore’ ini salah satu ujungnya berpengaruh pada semakin ramainya pengunjung warnet yang menyediakan fasilitas game online. Inilah tempat favorit bagi anak-anak untuk menghabiskan uang jajanannya. Tak heran bila di sekitar sejumlah pusat perbelanjaan menjamur warnet-warnet baru, baik yang fasilitasnya berkelas maupun, dan ini mayoritas, yang fasilitasnya ala warkop.

Yang juga mengeruk untung adalah produsen obat sakit kepala dan flu. Kehujanan adalah pemandangan sehari-hari. Seringnya kehujanan, terutama saat sore menjelang malam, membuat orang lebih mudah terserang flu. Apalagi saat pakaian lembab dan basah oleh guyuran air hujan, tubuh harus bermandi peluh dan kepenatan (bila di dalam angkutan umum) ataupun kedinginan selama beberapa jam dalam mobil pribadi karena lalu lintas yang macet. Jika ditambah efek psikologis yang dikombinasikan kondisi-kondisi nonideal tersebut maka lengkaplah rujukan untuk mencari obat sakit kepala. Dalam dua tiga hari, orang yang secara fisik kuat pun akan mudah drop. Tanda-tanda awal yang perlu diantisipasi sebelum berdampak pada jatuh sakit yang lebih parah memang obat sakit kepala dan flu, serta minuman untuk mempertahankan stamina.


Nah, jenis obat-obatan dan minuman seperti ini sedang menjadi primadona. Keuntungan jelas diperoleh produsen hingga para pedagang eceran yang memasarkannya. Mungkin, produsen akan berfikir untuk memanfaatkan momentum ini dengan membuat iklan baru. Isinya tak jauh-jauh dari: ”kehujanan, macet....segera cegah sakit kepala dan flu dengan ....”

Gambaran di atas baru satu contoh sederhana dari satu gambaran ketidakpastian alam, perubahan cuaca sebagai efek perubahan iklim, yang sedang dihadapi dunia saat ini. Masih begitu banyak ketidakpastian lain yang berbuah risiko bagi manusia. Namun, sejak Adam Smith, risiko telah dilihat sebagai ruang untuk meraup keuntungan. Beberapa pihak telah berhasil melihat ceruk potensi perubahan cuaca kota Jakarta. Siapa menyusul?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar